Hingga kemarin, BI aktif melakukan sejumlah operasi moneter seperti lelang Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), term deposit valas, dan FX Swap.
Pada lelang SVBI, BI menyerap sebanyak US$157 juta dengan yield rata-rata tertimbang 3,66%. Sementara dari transaksi DNDF Jual (rollover) volume yang berhasil diterima sebesar US$135 juta.
Akan tetapi, risiko jangka panjang dapat kembali meningkat apabila penurunan peringkat dari emerging market menjadi frontier market benar-benar terjadi, dan dapat memicu arus keluar dari pasar surat utang, meski BI melakukan intervensi.
Saat ini, indeks dolar AS tercatat mengalami penurunan 0,17% ke posisi 96.283, dan menjadi posisi terlemahnya dalam empat bulan terakhir, melampaui posisi terlemahnya pada 16 September 2025 di posisi 96,633. Meski dolar AS berada dalam tren pelemahan, rupiah akan tetap berada dalam tekanan dalam jangka pendek karena pasar masih khawatir terkait kondisi fiskal domestik yang cenderung ketat, dan membayangi persepsi risiko pasar domestik.
Di sisi lain, sentimen eksternal juga masih akan membayangi pasar keuangan tanah air. Besok, waktu setempat, Presiden AS Donald Trump, akan mengumumkan kandidat ketua The Fed pilihannya, tengah kekhawatiran hilangnya independensi bank sentral yang belum sepenuhnya pudar.
Ketidakharmonisan Trump dengan Gubernur The Fed Jerome Powell makin menganga dengan kebijakan penahanan suku bunga acuan sebesar 3,5-3,75% yang diumumkan kemarin. Pemerintah AS juga kemarin sempat terancam shutdown, lantaran ketidaksepakatan Partai Demokrat terkait perpanjangan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri hingga September 2026 tanpa batasan baru pada tindakan keras imigrasi Trump.
Apabila kesepakatan gagal diraih sebelum hari Sabtu, pendanaan untuk sebagian besar lembaga federal akan habis, termasuk untuk Departemen Pertahanan serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan.
Sementara presiden dan kongres berseteru, data ekonomi AS sedikit menandakan pemulihan, dengan angka klaim pengangguran yang tetap rendah yang tercatat lewat klaim awal asuransi pengangguran turun 1.000 menjadi 209 ribu. Meski masih lebih tinggi dari konsensus yang menetapkan angka 205 ribu, namun angka ini diklaim menjadi gambaran ekonomi AS yang relatif solid.
Di tengah kondisi dan sentimen ini, bagaimana arah rupiah selanjutnya?
Analisis Teknikal
Lalu bagaimana prediksi gerak rupiah untuk hari ini? Berapa saja target yang perlu dicermati pelaku pasar?
Secara teknikal dengan perpsektif harian (daily time frame), rupiah berisiko melemah hari ini. Target pelemahan terdekat menuju level Rp16.780/US$. Support lanjutan sepertinya tertahan di level Rp16.800/US$.
Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.800/US$, maka ada kemungkinan untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp16.850/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya menjadi resistance psikologis potensial yaitu di level Rp16.720/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan adalah Rp16.700/US$.
(riset/aji)


























