Meski sama-sama layak investasi (investment grade), CDS Indonesia secara konsisten berada di atas negara sekelompok (peers). CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun berada di kisaran 74,78 basis poin, dibandingkan Malaysia di 39,31 bps dan Thailand di 38,90 bps.
Sentimen yang dengan cepat menjalar lintas aset ini menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 478,13 poin atau setara dengan 5,75% ke posisi 7.842, setelah MSCI mengumumkan keputusannya kemarin.
Sama halnya dengan IHSG, tekanan juga terjadi di pasar valuta asing. Hingga pukul 11:30 WIB, nilai tukar rupiah melemah makin dalam 0,53% ke Rp16.795/US$, meskipun indeks dolar AS sedang susut 0,031% ke posisi 96,146. Hal ini menggambarkan kekhawatiran investor terkait persepsi risiko struktural pasar keuangan domestik.
Seharusnya, pelemahan dolar AS jadi bisa jadi daya ungkit bagi rupiah. Namun, kondisi pasar keuangan domestik yang tengah dilanda sentimen terkait transparansi, keterbukaan informasi, dan regulasi mendapat perhatian yang masif dari investor global, membuat rupiah tidak bisa berkutik pada sesi perdagangan hari ini.
Tekanan Tambahan
Pasca MSCI merilis pengumuman itu, analis Goldman Sachs Group Inc. juga memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, memperingatkan bahwa kekhawatiran MSCI Inc. soal aspek investability berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari US$13 miliar apabila pasar Indonesia sampai diturunkan statusnya ke kategori frontier market.
Dalam skenario ekstrem, Goldman bahkan memperkirakan reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) dapat memaksa dana pasif yang mengikuti indeks MSCI melepas aset mereka hingga US$7,8 miliar. Risiko arus keluar tambahan senilai US$5,6 miliar juga muncul apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float saham-saham Indonesia.
“Kami memperkirakan aksi jual pasif akan berlanjut dan memandang perkembangan ini sebagai beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporan mereka, seperti dikutip Bloomberg News.
Goldman menilai posisi manajer investasi aktif regional yang saat ini overweight di Indonesia justru memperbesar risiko koreksi. Potensi penurunan status, dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar dan kemungkinan menyusutnya likuiditas, dapat mendorong investor long-only untuk menyeimbangkan ulang portofolio.
Senada dengan Goldman, UBS Group AG yang juga memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight. Dalam catatannya, UBS menilai kekhawatiran MSCI terkait investability dan potensi reklasifikasi ke status frontier market akan menjadi beban berkepanjangan bagi pasar hingga ada kejelasan arah kebijakan regulator serta hasil penilaian ulang MSCI.
“Kami memperkirakan overhang di pasar akan bertahan sampai terdapat kejelasan regulasi dan evaluasi MSCI,” tulis analis UBS yang dipimpin Sunil Tirumalai dalam riset tertanggal 28 Januari seperti dikutip Bloomberg News.
Meski Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kemarin sempat menyebut reaksi pasar berlebihan, tetapi reaksi pasar kali ini agaknya tak bisa terus dibiarkan, mengingat risiko turun 'kasta' pasar Indonesia menjadi frontier market dapat membuat Indonesia ditinggal investor asing di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan utang untuk pembiayaan negara.
Sebagai catatan, total investasi dalam MSCI Indonesia mencapai US$120 miliar sementara investasi terbesar MSCI Frontier adalah Vietnam dengan nilai kurang dari US$60 miliar.
“Artinya, secara potensi kita bisa melihat arus keluar dari dana asing lebih dari US$60 miliar secara agregat, jumlah yang sangat besar dan sulit dibayangkan,” kata Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, dalam catatannya.
(dsp/aji)






























