Logo Bloomberg Technoz

Dalam proses diskusi dengan MSCI, BEI telah menyampaikan data-data publik untuk meluruskan pemahaman terkait struktur kepemilikan saham di Indonesia. Data tersebut digunakan untuk menjelaskan karakter investor yang masuk dalam kategori korporasi.

Terkait kemungkinan penerapan metodologi baru oleh MSCI, Irvan menyatakan BEI akan menunggu keputusan resmi dan tidak berspekulasi sebelum keputusan tersebut diumumkan.

Untuk diketahui, MSCI melakukan simulasi atas perubahan metodologi perhitungan free float dengan menambahkan data laporan bulanan kepemilikan saham dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai sumber tambahan dalam mengestimasi porsi saham publik.

Dalam laporan KSEI, pemegang saham diklasifikasikan ke dalam sejumlah kategori, antara lain korporasi dan individu, termasuk kepemilikan saham di bawah 5% yang selama ini belum sepenuhnya tercermin dalam keterbukaan informasi publik.

Pada simulasi pertama, MSCI mengategorikan saham scrip yang tidak tercatat dalam data KSEI, kepemilikan korporasi baik domestik maupun asing, serta kelompok “lainnya” sebagai saham non-free float. Berdasarkan simulasi tersebut, MSCI memperkirakan adanya potensi penurunan foreign inclusion factor (FIF) pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, dengan estimasi one-way turnover MSCI Indonesia mencapai 13%.

Sementara pada simulasi kedua, MSCI menggunakan pendekatan yang lebih terbatas dengan hanya mengklasifikasikan saham scrip serta kepemilikan korporasi lokal dan asing sebagai non-free float. Dampak terhadap FIF dinilai lebih terbatas, dengan estimasi one-way turnover sekitar 5%.

MSCI membuka periode konsultasi atas wacana perubahan metodologi tersebut hingga 31 Desember 2025 dan menargetkan pengumuman keputusan paling lambat pada 30 Januari 2026. Jika disetujui, metodologi baru tersebut akan mulai diterapkan pada peninjauan indeks MSCI Mei 2026.

(ain)

No more pages