Logo Bloomberg Technoz

Terlebih pemerintah juga melakukan injeksi likuiditas ke perbankan, khususnya Bank Himpunan Milik Negara (Himbara), melalui pemindahan dana dari rekening BI ke rekening Himbara sebesar Rp200 triliun, disusul tambahan Rp76 triliun, meskipun sebagian dana tersebut kemudian ditarik kembali di akhir tahun.

Namun demikian, penurunan biaya dana tersebut belum serta-merta diikuti oleh penyesuaian cepat pada suku bunga kredit. 

Meski demikian, Myrdal menilai sektor riil mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pertumbuhan kredit yang telah mencapai lebih dari 9% dan mendekati 10% dinilai masih positif mengingat laju pertumbuhan kredit sempat melambat pada awal tahun 2025.

Ke depan, ia optimistis realisasi program prioritas pembangunan pemerintah dapat mendorong perbaikan aktivitas ekonomi secara lebih luas. Kondisi tersebut diharapkan menekan opportunity cost of money lebih lanjut, sehingga membuka ruang penurunan suku bunga deposito dan kredit yang lebih besar.

"Untuk UMKM saya melihatnya pelan-pelan lah ini [membaik] setelah di awal tahun [2025] sektor ini under pressure, dan kita harapkan ada pembalikan sih tahun ini setelah lihat program-program pemerintah ini yang menyasar industri-industri kecil, dan kita lihat juga subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR) angkanya untuk tahun ini juga bagus ya," ungkapnya. 

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, nilai fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat hingga Desember 2025 mencapai Rp2.439 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia. Jumlah ini cukup besar meskipun ada tren peningkatan permintaan kredit. 

"Pelaku usaha terus perlu didorong untuk ekspansi dengan manfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan tercatat masih cukup besar," kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Edisi Januari 2026, Rabu (21/1/2026).

Padahal bank-bank domestik memiliki kapasitas pembiayaan bank ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57% dan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh tinggi sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025.

Sementara itu, dari sisi penyaluran kinerja kredit perbankan sepanjang 2025 tercatat tumbuh 9,69% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka ini berada di rentang bawah target pertumbuhan kredit yang ditetapkan BI di kisaran 8%-11%.

"Menurut kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing tercatat 21,06% (yoy), 4,52% (yoy), dan 6,58% (yoy)," ujar Perry. 

(lav)

No more pages