Amerika Serikat Hadapi Risiko Siber Pasca Berkonflik dengan Iran
Redaksi
11 March 2026 12:55

Bloomberg Technoz, Jakarta - Keputusan militer Amerika Serikat (AS) menyerang wilayah Iran berdampak pada tingginya risiko ancaman siber pada entitas di Negeri Pam Sam tersebut, khususnya sektor keuangan.
Laporan lembaga pemeringkat Fitch Ratings, serangan siber didorong oleh motif geopolitik, yang juga dapat menyebar ke sektor lain seperti jaringan, utilitas air, pembangkit listrik, serta kesehatan. “Serangan siber balasan yang lebih luas juga kemungkinan besar terjadi,” jelas Omid Rahmani, Direktur US Public Finance di Fitch Ratings, dikutip Rabu (11/3/2026).
Ia menambahkan bahwa serangan bisa saja dilakukan oleh aktor lone wolf dan berdasarkan data historis, “entitas municipal dan lokal tidak mendapatkan investasi yang sama kuatnya dalam keamanan siber,” ucap Rahmani.
Pola serangan siber beragam, meliputi DDoS atau distributed denial-of-service, aksi yang didorong oleh motif keuangan, dan pola serangan dengan tujuan menyebabkan gangguan atau kerusakan fisik.
“Entitas keuangan publik menjadi sasaran karena layanan esensial yang mereka sediakan, kerentanan sistem IT, dan pengumpulan data. Entitas keuangan publik yang lebih kecil dan terbatas sumber dayanya khususnya rentan, karena pengurangan sumber daya siber federal dapat menghambat pertahanan yang kuat, koordinasi, dan respons,” Rahmani menambahkan.

































