Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (22/1/2026).
- Petrosea (PTRO) mengurangi 9,99 poin
- Bumi Resources (BUMI) mengurangi 9,89 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 6,33 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 5,24 poin
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 4,75 poin
- Darma Henwa (DEWA) mengurangi 4,41 poin
- Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 4,34 poin
- DCI Indonesia (DCII) mengurangi 4,24 poin
- Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) mengurangi 4,11 poin
- Bukit Uluwatu Villa (BUVA) mengurangi 3,97 poin
Adapun saham–saham energi lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG adalah PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) anjlok 10%, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) ambruk 9,9%, dan PT GTS Internasional Tbk (GTSI) kehilangan 9,7%.
Disusul oleh pelemahan saham teknologi seperti PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang turun 14,9%, PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) melemah 14,2%, dan saham PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) yang mencetak koreksi 9,8%.
Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup melemah setelah berfluktuatif. Mayoritas bursa Asia justru ditutup menguat, seiring dengan meredanya ketegangan AS–Eropa setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif 10% terhadap Eropa pada 1 Februari 2026 serta tidak akan menggunakan kekerasan untuk menguasai Greenland.
Bursa Eropa juga dibuka menguat setelah Trump menyatakan mencapai kesepakatan kerangka kerja mengenai Greenland, lanjut riset Phintraco. PM Denmark menyatakan siap melakukan pembicaraan dengan Trump terkait pertahanan rudal Golden Dome.
“Hal tersebut menjadi faktor positif dan sempat mendorong rebound IHSG. Namun secara teknikal, IHSG masih ditutup di bawah MA–5 dan MACD berpotensi membentuk death cross,” papar Phintraco, Kamis.
Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji level support di 8.850-8.950.
Di samping itu, IHSG tersengat sentimen wait and see. Pasar menantikan rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) di AS. Indeks PCE dipantau secara ketat oleh Federal Reserve (The Fed) yang merupakan indikator inflasi pilihan yang mencerminkan perubahan perilaku belanja konsumen.
Secara terpisah, data data klaim tunjangan pengangguran mingguan juga akan dirili. Investor juga terus mencermati laporan kinerja keuangan yang akan dirilis pekan ini dari sejumlah perusahaan besar di Wall Street.
(fad/aji)































