Logo Bloomberg Technoz

“Energy Fuels sedang mengeksekusi rencana kami untuk menciptakan produsen material logam tanah jarang (REE) terintegrasi terbesar di luar China,” kata CEO Energy Fuels Mark S. Chalmers dalam pernyataannya.

Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam dorongan global membangun pasokan logam tanah jarang, setelah China tahun lalu mengancam penghentian industri secara luas dengan membatasi ekspor.

Sejak itu, terjadi lonjakan investasi baru di sektor tambang dan kapasitas pemrosesan, sementara AS memimpin upaya perjanjian internasional terkait mineral kritis.

China masih menguasai sebagian besar kapasitas penambangan dan pemrosesan logam tanah jarang dunia, membuat negara lain rentan terhadap guncangan pasokan.

Beijing kembali menunjukkan dominasinya tahun ini dengan memperingatkan perusahaan Jepang agar bersiap menghadapi pengawasan yang lebih ketat atas pasokan dari China.

Saham ASM sempat melonjak hingga 126%, tertinggi sepanjang sejarah, sebelum memangkas sebagian kenaikan dan diperdagangkan di A$1,57 per saham pada perdagangan Rabu di Sydney.

Tambang Energy Fuels di Arizona menghasilkan logam tanah jarang sebagai produk sampingan. Perusahaan berencana menggabungkan produksi oksida logam tanah jarang di fasilitas pengolahan White Mesa di Utah dengan kapasitas manufaktur logam dan paduan hilir di pabrik logam ASM di Korea, menurut pernyataan perusahaan.

ASM juga berencana mengembangkan tambang yang dikenal sebagai Proyek Dubbo di Australia, serta memiliki rencana pembangunan fasilitas logam di Amerika Serikat.

Perjanjian ini memungkinkan pemegang saham ASM untuk “tetap memiliki peluang berpartisipasi dalam potensi kenaikan signifikan dari bisnis mineral kritis yang lebih besar dan memiliki permodalan lebih kuat,” ujar CEO ASM Rowena Smith dalam pernyataan terpisah.

Akuisisi tersebut diperkirakan akan rampung pada akhir Juni tahun ini, dengan catatan memperoleh persetujuan pemegang saham dan regulator.

(bbn)

No more pages