2. Nama Greenland berasal dari "Erick the Red"
Nama “Greenland” kerap memicu kekacauan karena bentang alamnya yang didominasi es. Nama tersebut berasal dari Erik the Red, seorang bangsa Norse yang terpaku di pulau ini dengan harapan dapat menarik pemukim. Menariknya, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa jutaan tahun yang lalu Greenland memang jauh lebih hijau sebelum tertutup lapisan es tebal akibat perubahan iklim purba.
3. Greenland adalah negara otonom
Dari sisi politik, Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Meski secara geografis berada di Amerika Utara, hubungan budaya dan politiknya telah lama terikat dengan Eropa. Sejak memperoleh otonomi pada tahun 1979 dan otonomi yang bertema pada tahun 2009, Greenland kini memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengatur urusan domestiknya sendiri.
4. 4.500 Tahun Sejarah
Sejarah manusia di Greenland tercatat telah berlangsung lebih dari 4.500 tahun. Migrasi manusia pertama diperkirakan terjadi sekitar 2500 SM, disusul oleh berbagai gelombang pendatang. Bangsa Norse sempat menetap di wilayah selatan pada abad ke-10, sementara suku Inuit yang datang pada abad ke-13 menjadi leluhur utama penduduk Greenland modern.
5. Kebudayaan Inuit
Hingga kini, sekitar 88% penduduk Greenland merupakan Inuit, khususnya kelompok Kalaallit. Mereka memiliki identitas budaya yang kuat dan masih mempertahankan tradisi leluhur. Sebutan “eskimo” dianggap tidak tepat, karena masyarakat setempat lebih memilih disebut Inuit atau Kalaallit, yang berarti “orang Greenland”.
6. Negara Aneka Bahasa
Bahasa Greenland (Kalaallisut), Denmark, dan Inggris digunakan secara luas, menjadikan Greenland sebagai wilayah multibahasa.
7. Tidak Ada Jalan di Greenland
Uniknya lagi, Greenland tidak memiliki jaringan jalan raya yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya. Jalan hanya tersedia di dalam kota dan berakhir di pinggiran organisasi. Perjalanan antardaerah dilakukan menggunakan pesawat, perahu, helikopter, mobil salju, atau kereta luncur anjing. Perahu menjadi moda transportasi paling populer, terutama saat musim panas ketika fjord ramai dilalui warga.
8. Perburuan Paus dan Memancing
Dari sisi ekonomi tradisional, perikanan dan perburuan berkelanjutan memegang peranan penting. Greenland mengimpor hampir seluruh kebutuhan pokoknya, kecuali ikan, makanan laut, serta hasil buruan seperti anjing laut dan paus. Aktivitas ini diatur ketat melalui sistem kuota untuk mencegah eksploitasi berlebihan, sementara spesies tertentu seperti jeda biru dilindungi sepenuhnya dan tidak boleh diburu.
9. Sebuah Ibu Kota yang Dinamis
Hampir seperempat populasi Greenland tinggal di ibu kota Nuuk, kota terbesar dan paling kosmopolitan di pulau tersebut. Meski berukuran kecil, Nuuk memiliki museum, kafe modern, dan pusat seni yang hidup. Kota ini dikelilingi pegunungan dan terletak di muara sistem fjord besar, menawarkan akses mudah ke alam liar.
10. Matahari Tengah Malam
Setiap musim panas, masyarakat dan wisatawan juga dapat menikmati fenomena matahari tengah malam, ketika matahari tidak terbenam dari akhir Mei hingga akhir Juli—sebuah pengalaman alam yang menjadi kebanggaan Greenland.
(dec/spt)





























