Kemitraan pertumbuhan ekonomi Indonesia–Inggris ini mencakup kerja sama lintas sektor yang luas. Mulai dari pengembangan energi terbarukan, kesehatan dan sains, bisnis dan jasa keuangan, ekonomi digital, hingga infrastruktur, transportasi, pendidikan, serta pertanian dan pangan.
Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan.
Salah satu fokus utama kerja sama tersebut adalah dukungan Inggris terhadap pengembangan energi hijau di Indonesia. Inggris, yang memiliki keunggulan dalam teknologi energi pasang surut, menyatakan dukungan untuk pengembangan kapasitas energi pasang surut di Indonesia hingga 40 megawatt (MW).
Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dan sejalan dengan rencana Indonesia menambah kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan sebesar 42,6 gigawatt (GW) sebagaimana tercantum dalam RUPTL PT PLN 2025–2034.
Selain itu, kedua negara juga menjajaki kerja sama pengembangan jaringan transmisi listrik terintegrasi berskala besar atau Green Enabling Super Grid untuk wilayah Jawa-Bali dan Jawa-Sumatera yang berbasis energi terbarukan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Dalam dokumen EGP yang dipublikasikan pada Selasa (20/1), Indonesia dan Inggris menyambut baik peningkatan peran lembaga keuangan dan sektor swasta dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Kerja sama juga diperluas ke sektor keuangan syariah, ekonomi digital lintas negara, serta penguatan perdagangan produk pertanian.
Tak kalah penting, kemitraan ini turut mendorong penguatan ekosistem e-commerce dan dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih terintegrasi dalam perdagangan global.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Inggris yang telah terjalin sejak 1949 pun kini memasuki babak baru yang lebih strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
(red)


























