"Fondasi ekonomi kita arahnya berlawanan dengan nilai tukar pada saat ini. Jadi pondasi ekonomi membaik terus, sementara nilai tukar agak melemah," tutur dia. "Saya pikir dari market kelihatan sekali kan? Mereka percaya fondasi ekonomi kita baik."
Rupiah pada penutupan perdagangan spot Selasa (20/1/2026) kemarin berada di posisi Rp16.950/US$. Ini menjadi posisi penutupan terlemah rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.
Begitu juga di pasar offshore, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah dihargai Rp16.995/US$, susut sebanyak 0,14%.
Dari dalam negeri, kepercayaan pasar sedang diuji lewat serangkaian kebijakan dan sikap yang diambil pemerintah. Defisit fiskal mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025, yang diprediksi akan melampaui ambang batasnya di 3% PDB tahun ini.
"Nilai tukar rupiah sedang berada di bawah tekanan akibat perkembangan domestik terbaru, termasuk risiko pelebaran defisit fiskal serta kembalinya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral," tulis Radhika Rao, ekonomi senior Bank DBS, seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (20/1/2026).
(lav)



























