Logo Bloomberg Technoz

Bersama mitra bisnis sekaligus pendamping hidupnya, Giancarlo Giammetti, Valentino membangun fenomena di industri mode. Ia merancang busana untuk semua orang, mulai dari Sophia Loren hingga Anne Hathaway dan Ratu Maxima dari Belanda. Ia juga pionir desainer Italia yang merambah ke lisensi produk non-pakaian seperti perlengkapan rumah tangga dan parfum, bahkan membawa perusahaannya melantai di bursa saham Italia lebih awal dibanding para pesaingnya.

Setelah menjual Valentino SpA pada 1998 dengan nilai US$300 juta, ia tetap merancang untuk label tersebut hingga pensiun pada 2008. Perusahaan itu kemudian diakuisisi oleh Mayhoola for Investments SPC asal Qatar pada 2014. Pada 2023, Kering SA sepakat membeli 30% saham rumah mode tersebut, dengan opsi untuk mengakuisisi sisanya.

Garis Mode

Valentino paling dikenal melalui rancangan busana wanita, lewat lini seperti Valentino Roma dan Red Valentino. Pada akhir 1960-an, ia juga merambah busana pria melalui Valentino Uomo dan Valentino Boutique.

Berbeda dengan banyak pelaku industri mode Italia yang memindahkan produksi dari Roma ke Milan pada 1970-an untuk produksi massal, Valentino tetap setia pada ibu kota Italia dan mempertahankan kantor pusatnya di sana.

Gaya hidup Valentino identik dengan kemewahan. Ia berpindah-pindah di antara kediaman mewahnya di Eropa dan Amerika Serikat, selalu ditemani enam anjing pug kesayangannya serta lingkaran pertemanan elite, termasuk aktris Gwyneth Paltrow.

Ia memiliki vila di Roma, chalet di Swiss, apartemen menghadap Central Park di New York, rumah besar di Holland Park, London, serta perkebunan Wideville dekat Paris, yang diklaim memiliki taman mawar terbesar di dunia di atas lahan bekas milik bangsawan Prancis. Seluruh kediamannya dihiasi karya seni kelas dunia dari Picasso, Warhol, dan seniman ternama lainnya, dengan renovasi tanpa kompromi biaya. Setiap musim panas, Valentino terbang setiap akhir pekan ke kapal pesiarnya yang diawaki penuh, di mana pun kapal itu berlabuh di Laut Mediterania.

Pengaruh Sinema

Valentino Clemente Ludovico Garavani lahir pada 11 Mei 1932 di Voghera, sebuah kota dekat Milan di Italia utara. Ia adalah putra dari Teresa de Biaggi dan Mauro Garavani, yang menamainya dari bintang film bisu Rudolph Valentino. Sebagai penghormatan kepada orang tuanya, Valentino menggunakan inisial mereka untuk nama kapal pesiarnya yang terkenal, T.M. Blue One.

Ketertarikannya pada dunia mode bermula dari kebiasaan pergi ke bioskop bersama sang kakak perempuan, di mana ia mengagumi bintang-bintang seperti Gene Tierney dan Rita Hayworth. Bahkan sejak kecil, ia sudah menuntut kesempurnaan dalam pakaian yang dibuat khusus untuknya.

“Ibu saya sering berkata, ‘Bagaimana bisa saya melahirkan seorang anak laki-laki yang hanya mau menerima barang-barang paling mahal?’” ujar Valentino.

Ia mulai membuat sketsa desain gaun di waktu luangnya saat masih sekolah menengah, lalu belajar mode di Milan dan mempelajari bahasa Prancis. Ketertarikannya pada gaun merah muncul pada akhir 1940-an setelah melihat seorang perempuan mengenakan gaun beludru merah di opera Barcelona.

Pada usia 17 tahun, ia pindah ke Paris untuk belajar mode di École des Beaux-Arts dan Chambre Syndicale de la Couture Parisienne.

Valentino menjadi asisten perancang busana asal Yunani, Jean Desses, selama lima tahun, lalu bekerja di rumah mode Guy Laroche sebelum kembali ke Roma untuk mendirikan labelnya sendiri dengan dukungan orang tuanya. Salah satu klien pertamanya adalah Elizabeth Taylor, yang saat itu berada di Italia untuk syuting film Cleopatra (1963).

Pertemuannya dengan Giammetti di sebuah kafe di Via Veneto, Roma, pada 1960 menjadi titik balik. Valentino kemudian menyerahkan urusan bisnis kepada pasangannya itu setelah hampir bangkrut. Hubungan erat mereka bertahan lebih dari 50 tahun.

Valentino meraih Neiman Marcus Award — penghargaan prestisius yang kerap disebut sebagai Oscar-nya industri mode — pada 1967. Ia dianugerahi penghargaan tertinggi Italia, Cavaliere di Gran Croce, pada 1986, serta menerima penghargaan pencapaian dari National Italian American Foundation pada 1989.

Film dokumenter Valentino: The Last Emperor (2009) merekam perjalanan hidup dan karyanya, dan ia juga tampil sekilas dalam film The Devil Wears Prada (2006).

“Saya berharap akan dikenang sebagai seseorang yang mengejar keindahan di mana pun ia berada,” kata Valentino dalam wawancara dengan New Yorker. “Namun ketika semuanya selesai, ya selesai. Dan itulah akhirnya. Finito.”

(bbn)

No more pages