Selain itu, ketidakpastian kebijakan pemerintah khususnya terkait penugasan bank-bank Himbara dalam program pemerintah dinilai telah terefleksi pada harga saham. Perkembangan terbaru menunjukkan keterlibatan Himbara yang lebih terbatas, sehingga dampaknya terhadap profitabilitas dan permodalan dinilai lebih terkendali.
Dari sisi kinerja, momentum laba bersih Big 4 Banks tercatat berada pada titik terlemah pada periode kuartal II hingga kuartal III 2025, sebelum mulai berbalik positif memasuki kuartal IV 2025. Konsensus memperkirakan laba bersih Big 4 Banks pada 2026 kembali tumbuh di kisaran 7–10% secara tahunan (year on year/YoY).
Pertumbuhan tersebut diproyeksikan ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit, stabilitas margin bunga bersih (NIM), serta perbaikan kualitas aset yang tercermin dari penurunan cost of credit (CoC). Secara historis, perbaikan momentum laba bersih memiliki korelasi positif dengan pemulihan valuasi saham perbankan.
Imbal Hasil
Dengan asumsi valuasi kembali ke level rata-rata historis (mean), potensi kenaikan harga saham diperkirakan mencapai 16% untuk BBCA, 13% untuk BMRI, 22% untuk BBRI, dan 14% untuk BBNI, di luar pertumbuhan laba bersih dan nilai buku per 15 Januari 2026.
Dari sisi imbal hasil dividen, bank-bank Himbara menawarkan potensi dividend yield yang relatif tinggi. Berdasarkan estimasi konsensus tahun buku 2026, dividend yield ketiga bank Himbara berada di kisaran 8-9%, sementara BBCA diperkirakan menawarkan dividend yield sekitar 4%.
Meski demikian, pemulihan harga saham secara lebih agresif dinilai masih bergantung pada kembalinya foreign inflow dalam skala besar. Setelah mencatatkan arus keluar dana asing sepanjang 2025, inflow diperkirakan akan kembali secara bertahap seiring perbaikan kinerja fundamental perbankan.
Skenario bullish, di mana arus dana asing kembali masuk secara masif, dinilai membutuhkan perbaikan fundamental ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Risiko utama yang masih membayangi antara lain pemulihan makroekonomi yang berjalan lambat serta tekanan berkelanjutan pada nilai tukar rupiah,” tulis riset tersebut.
Dari sisi kinerja historis, tekanan terhadap laba bersih Big 4 Banks pada 2025 dipicu oleh ketatnya likuiditas perbankan, kenaikan biaya dana (cost of fund), serta meningkatnya kompetisi dana pihak ketiga (DPK) setelah periode pertumbuhan kredit yang agresif pada 2023–2024. Kondisi tersebut menekan NIM hingga periode sembilan bulan pertama 2025, terutama pada bank-bank selain BBCA yang memiliki keunggulan pada struktur pendanaan dan likuiditas.
Memasuki 2026, perbaikan kondisi makro diproyeksikan menjadi faktor pendorong utama pemulihan kinerja, seiring mulai melonggarnya likuiditas, percepatan belanja pemerintah, serta tren penurunan suku bunga Bank Indonesia.
Proyeksi konsensus menunjukkan laba bersih Big 4 Banks kembali ke jalur pertumbuhan, dengan estimasi kenaikan tertinggi pada BBNI dan pertumbuhan moderat pada BBCA dan BMRI.
Di tengah kondisi tersebut, pemulihan inflow asing ke saham perbankan besar dinilai akan berlangsung secara gradual. Akselerasi inflow dinilai masih menunggu sentimen makro yang lebih kuat untuk mendorong keyakinan investor global terhadap stabilitas dan prospek ekonomi domestik.
(dhf)






























