Agenda periode kedua Trump yang luas berulang kali menargetkan Uni Eropa dan NATO, beberapa sekutu terdekat AS. Pengumuman tarifnya pada Sabtu menyusul langkah delapan negara Eropa, termasuk Denmark, untuk mengadakan latihan militer NATO simbolis di Greenland untuk menunjukkan komitmen benua tersebut terhadap keamanan pulau itu.
Bessent menjabarkan alasan di balik upaya Trump untuk menguasai Greenland, di antaranya persaingan global di Arktik, rencana AS untuk perisai rudal "Golden Dome", dan ketergantungan Eropa sebelumnya pada energi Rusia yang diklaimnya "mendanai" perang Moskwa di Ukraina.
Ketika ditanya apakah sikap Trump terhadap Eropa merupakan taktik negosiasi, Bessent mengisyaratkan bahwa presiden tidak akan mengubah pendiriannya.
"Eropa menunjukkan kelemahan, AS menunjukkan kekuatan," katanya. "Presiden percaya bahwa peningkatan keamanan tidak mungkin tercapai tanpa Greenland menjadi bagian dari AS."
Kepala penasihat ekonomi Trump di Gedung Putih, Kevin Hassett mengisyaratkan bahwa Trump siap untuk membuat kesepakatan yang tidak spesifik mengenai Greenland.
"Saat ini adalah waktu yang tepat bagi akal sehat untuk menang dan bagi kita untuk mengabaikan retorika dan duduk di meja perundingan untuk melihat apakah kesepakatan yang terbaik untuk semua pihak dapat dicapai," kata Hassett dalam program Fox News, The Sunday Briefing.
Meski sebagian besar penolakan datang dari Eropa, beberapa pihak di Washington juga menyuarakan kekhawatiran.
Senator Republik Thom Tillis dan Senator Demokrat Jeanne Shaheen mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak pemerintahan Trump untuk "menghentikan ancaman dan beralih ke diplomasi."
Senator Republik libertarian dari Kentuckym Rand Paul, yang sering berseberangan dengan Trump dalam hal kebijakan, mengatakan bahwa "tidak ada keadaan darurat terkait Greenland."
"Itu konyol," kata Paul pada Minggu dalam Meet the Press. Meski tidak ada senator Republik yang mendukung aksi militer AS untuk menduduki Greenland, Trump "terus memprovokasi dengan mengatakan hal itu," ujarnya.
"Namun, dalam upaya membeli Greenland secara damai, Anda tidak akan menjadi pembeli yang mencaci maki mereka dan mengatakan Anda akan mengambilnya begitu saja," tegas Paul.
Anggota Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Chris Van Hollen mengatakan Trump sedang melakukan "penjarahan tanah."
"Donald Trump ingin menguasai mineral dan sumber daya lain di Greenland, sama seperti alasan sebenarnya dia masuk ke Venezuela," ungkap Van Hollen dalam program ABC's This Week.
Karena beberapa pemimpin Eropa menyatakan bahwa langkah AS untuk mengambil Greenland akan mengakhiri Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) setelah lebih dari tujuh dekade, Bessent mengatakan itu adalah "hal yang salah."
"Para pemimpin Eropa akan menyadari dan memahami bahwa mereka perlu berada di bawah payung keamanan AS," katanya kepada NBC.
(bbn)





























