"Apa yang terjadi di Venezuela seharusnya memperjelas rezim Kuba dan setiap penguasa diktator lain di seluruh dunia bahwa Anda jangan main-main dengan Presiden Trump," tegas Lewin. "Kelemahan dan kekacauan, perselisihan dan campur tangan asing di kawasan kita sudah berakhir."
Baik Kedutaan Besar Kuba di Washington maupun Kementerian Luar Negeri di Havana belum menanggapi permintaan komentar.
Departemen Luar Negeri AS pada Rabu mengumumkan mereka mengirim US$3 juta dalam bentuk "bantuan bencana yang sangat dibutuhkan bagi rakyat Kuba yang terdampak Badai Melissa." Pengiriman, yang mencakup makanan, peralatan pengolahan air, peralatan dapur, selimut, dan lampu surya, tersebut dikirim dari Miami ke kota-kota timur Holguin dan Santiago de Cuba.
Dalam unggahan di X, Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez mengatakan bahwa meski pemerintah Kuba pada prinsipnya terbuka untuk menerima bantuan tersebut, AS memanfaatkan isu kemanusiaan "untuk tujuan manipulasi oportunistik dan politik."
Kuba telah lama menjadi sekutu rezim sosialis Venezuela, menyediakan personel medis, keamanan, dan intelijen sebagai imbalan atas minyak bersubsidi. Hampir tiga puluh agen Kuba yang menjaga Maduro tewas dalam misi AS dan jenazah mereka dipulangkan ke pulau tersebut pada Kamis dalam upacara yang dihadiri oleh Raul Castro dan Presiden Miguel Diaz-Canel.
Di luar krisis ekonomi dan kemanusiaan yang semakin parah—ditandai dengan kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan, Kuba juga mempertahankan hubungan dekat dengan musuh-musuh AS seperti Rusia dan Iran—hubungan yang meningkatkan kekhawatiran Washington.
Spekulasi bahwa Kuba mungkin menjadi target selanjutnya Presiden Donald Trump mulai meningkat setelah Maduro ditangkap, meski dia mengatakan pada hari serangan bahwa rezim tersebut begitu lemah, sehingga mungkin segera runtuh dengan sendirinya.
Namun, diplomat utama Trump membawa pesan yang lebih tajam. "Jika saya tinggal di Havana dan di pemerintahan, saya akan khawatir," kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio di samping presiden.
Bagi Rubio, yang orang tuanya melarikan diri dari Kuba sebelum Fidel Castro berkuasa pada 1959, menggulingkan rezim Kuba akan menjadi kemenangan pribadi dan membantu upaya pencalonannya sebagai presiden di masa depan.
(bbn)































