Logo Bloomberg Technoz

Komentar BI-Purbaya Soal Rupiah Loyo Awal 2026

Sultan Ibnu Affan
16 January 2026 15:40

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sejumlah pihak melontarkan komentar ihwal fenomena kinerja nilai tukar rupiah yang mengalami keterpurukan sejak awal tahun, berbanding terbalik dengan kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang justru tumbuh positif.

Sejak memasuki 2026, nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan, dan sempat melorot ke Rp16.878 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (13/1/2026) kemarin.

Dalam dua pekan pertama 2026, rupiah juga masih menjadi mata uang terlemah ketiga di Asia dengan penurunan 1,07%, di bawah yen Jepang di posisi kedua dengan penurunan 1,15% dan won Korsel paling tinggi sebesar 2,17% pada Kamis lalu.


Bank Indonesia menilai pergerakan mata uang global, termasuk Indonesia, pada awal 2026 banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. 

BI mengklaim tekanan tersebut bersumber dari eskalasi geopolitik dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju.