Tiga komponen tersebut, yakni; capital expenditure (capex) atau modal kerja, permintaan dan penawaran dari hasil produk kilang, serta pendanaan dari proyek tersebut.
Senior Director Oil, Gas, Petrochemical BPI Danantara Wiko Migantoro menjelaskan kebutuhan capex dipenuhi dari hasil lelang.
Sementara itu, masalah suplai dan permintaan merupakan aspek yang harus dihitung dengan teliti, termasuk efektivitas pengurangan konsumsi energi fosil dari hasil produk kilang.
Untuk isu pendanaan, Wiko menyatakan pendanaan proyek tersebut harus berasal dari sumber yang kredibel.
“Kalau progresnya sendiri kan untuk land clearing sudah, kemudian FEED-nya juga sudah. Tahapan ke FID yang memang untuk mendapatkan FID itu masih tiga komponen tersebut harus terpenuhi,” kata Wiko ketika ditemui awak media, di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2025).
Dia memastikan raksasa migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, masih berkomitmen merampungkan FID di proyek Kilang Tuban.
Wiko juga tidak menampik terdapat investor dari negara lain yang menyatakan niatnya tertarik untuk berinvestasi di Kilang Tuban.
Akan tetapi, dia memastikan Indonesia akan memprioritaskan Rosneft di proyek tersebut sebab sudah terdapat perjanjian yang diteken.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan FID Rosneft di Kilang Tuban bakal diputuskan pertengahan Desember 2025.
Bahlil menuturkan PT Pertamina (Persero) bersama dengan Rosneft Singapore Pte Ltd tengah berunding terkait dengan keputusan akhir megaproyek kilang tersebut.
“Rosneft lagi melakukan pembahasan dengan Pertamina. Nanti di pertengahan bulan ini baru ada keputusan,” kata Bahlil kepada awak media di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Adapun megaproyek kilang baru dengan nilai investasi sekitar US$20,7 miliar itu digarap PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).
Pertamina lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), memegang 55% saham PRPP, sedangkan 45% saham lainnya dikuasai Rosneft Singapura.
Setelah tersendat beberapa tahun, FID Rosneft di proyek GRR tersebut semestinya ditargetkan rampung pada kuartal IV-2025.
(azr/wdh)





























