Logo Bloomberg Technoz

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.596,8/troy ons. Melemah 0,04% dibandingkan hari sebelumnya.

Pada perdagangan awal pekan ini, harga emas dunia ditutup di US$ 4.598,6/troy ons. Ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Sejak awal perdagangan 2026 (year-to-date), harga emas membukukan kenaikan 6,36%. Melanjutkan tren bullish tahun lalu, di mana harga emas meroket lebih dari 60%.

Harga yang sudah naik begitu tinggi tentu menyimpan risiko koreksi. Sebab, tentu akan datang saatnya di mana investor ‘gatal’ untuk mencairkan cuan. Ketika itu tiba, maka emas akan terserang tekanan jual dan harganya turun.

Namun koreksi harga emas tertahan oleh rilis data ekonomi terbaru di Amerika Serikat (AS). US Bureau of Labor Statistics mengumumkan, inflasi AS pada Desember 2025 tercatat 2,7% secara tahunan (year-on-year/yoy). Laju tersebut tidak berubah, sama dengan posisi bulan sebelumnya. 

Sementara inflasi inti (core) pada Desember 2025 berada di 2,6% yoy. Juga sama dengan bulan sebelumnya, dan bahkan lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar yang memperkirakan di 2,7% yoy.

Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi di Negeri Adidaya tidak meninggi. Ini bisa menjadi dasar bagi bank sentral Federal Reserve untuk melanjutkan pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas terasa lebih menguntungkan saat suku bunga bergerak turun.

(aji)

No more pages