Menurut laporan Bank Dunia, lingkungan perdagangan yang menantang dan pertumbuhan ekonomi global yang lambat dapat melemahkan laju pertumbuhan lapangan kerja di Asia Pasifik --termasuk Indonesia.
"Risiko negatif lainnya termasuk kondisi keuangan global yang lebih ketat, pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan di China, keresahan sosial dan ketidakpastian politik, serta bencana alam," demikian tertulis dalam laporan Bank Dunia.
Sebaliknya, di sisi positif, dampak hambatan perdagangan yang lebih tinggi dapat dibatasi oleh kemampuan perusahaan untuk beradaptasi, dan ekonomi Asia Pasifik dapat memperoleh peningkatan produktivitas dari investasi dan adopsi terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), karena kesiapan digital mereka yang lebih besar.
Antusiasme terhadap AI memicu kenaikan besar di pasar ekuitas. Di tengah penerbitan utang yang kuat, kawasan ini menyaksikan arus masuk modal yang besar, didominasi oleh arus utang. Namun, hal yang berbeda terjadi di Indonesia. Pasalnya, gejolak politik singkat dan pelonggaran kebijakan moneter yang lebih cepat dari fundamentalnya menyebabkan arus keluar modal dan pelemahan rupiah.
Terkait indeks harga konsumen, inflasi melambat di sebagian besar ekonomi Asia Timur dan Pasifik ke tingkat yang berada dalam atau di bawah kisaran target bank sentral, dan kebijakan moneter bersifat akomodatif.
Inflasi sebagian besar berasal dari kenaikan harga barang akibat adanya dukungan stimulus fiskal. Setelah kondisi keuangan mengencang tajam setelah pengumuman tarif pada bulan April, kondisi tersebut mereda di seluruh wilayah pada paruh kedua tahun lalu, dibantu oleh depresiasi dolar AS.
Ekonomi Indonesia 2026 Berpotensi Tumbuh 5%
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 hanya akan di level 5% atau lebih rendah dibanding target pemerintah yang mencapai 5,4%.
Lembaga internasional ini juga memproyeksi ekonomi sepanjang 2025 akan tumbuh di level yang sama, yakni 5%. Seperti diketahui, pemerintah baru akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sekaligus keseluruhan tahun pada awal Februari 2026.
Dalam laporan World Bank dipaparkan, aktivitas ekonomi di Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, diperkirakan akan melambat tahun ini sebelum meningkat tahun depan. Hal ini mencerminkan berakhirnya kebijakan dini atau front-loading, bersamaan dengan pertumbuhan investasi yang lebih kuat di beberapa negara, karena dukungan kebijakan domestik.
"Pertumbuhan di Indonesia diperkirakan akan berkelanjutan berkat stimulus fiskal dan investasi yang dipimpin negara," demikian tercantum dalam laporan World Bank, Rabu (14/1/2026).
Menurut laporan tersebut, investasi swasta tetap lesu di seluruh kawasan Asia Timur dan Pasifik, karena ketidakpastian kebijakan yang tinggi dan utang yang besar—kecuali di Indonesia dan Malaysia, di mana investasi tersebut didukung oleh inisiatif yang dipimpin negara dan investasi asing langsung.
(lav)




























