Sepanjang Januar hingga November 2025, neraca dagang Tanah Air juga masih surplus mencapai US$38,54 miliar, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS).
"Arus portofolio ke pasar saham dan obligasi, maupun arus investasi langsung asing (FDI) jangka panjang diperkirakan akan cenderung lemah dan lamban. Tekanan pada arus modal inilah yang menjadi sumber utama tekanan terhadap rupiah, bukan sektor perdagangan itu sendiri," tutur dia.
Pada hari ini, Senin (12/1/2026), nilai tukar rupiah juga masih melanjutkan pelemahan dalam pembukaan pasar spot pagi yang tergerus 0,18% di Rp16.835/US$.
Tak berselang lama, rupiah kembali mencatatkan pelemahan 0,21% dan berada di Rp16.841/US$, sekaligus melanjutkan tren pelemahan harian sejak awal Januari 2026.
(ell)































