Pada Oktober, Musk mengonfirmasi dalam sebuah unggahan di X bahwa perusahaan menemukan “bug signifikan” pada algoritma “For You” dan berjanji akan memperbaikinya.
Perusahaan juga tengah berupaya mengintegrasikan lebih banyak kecerdasan buatan ke dalam algoritma rekomendasi X, dengan menggunakan Grok, chatbot kecerdasan buatan milik Musk.
Dalam beberapa tahun terakhir, Musk telah berjanji untuk mempublikasikan sebagian algoritma X, namun realisasinya kerap tidak konsisten.
Pada September, Musk menulis bahwa tujuannya adalah agar mesin rekomendasi X “sepenuhnya berbasis AI” dan bahwa perusahaan akan membagikan algoritma open source tersebut sekitar setiap dua minggu.
“Sejauh orang-orang melihat perbaikan pada feed mereka, hal itu bukan karena tindakan individu tertentu yang mengubah heuristik, melainkan karena meningkatnya penggunaan Grok dan alat AI lainnya,” tulis Musk pada Oktober.
Musk menambahkan bahwa perusahaan tengah berupaya agar lebih dari 100 juta unggahan harian di X dievaluasi oleh Grok, yang kemudian akan menawarkan kepada setiap pengguna unggahan yang paling mungkin menarik bagi mereka.
“Ini akan secara mendalam meningkatkan kualitas feed Anda,” tulisnya.
Musk menambahkan bahwa perusahaan berencana meluncurkan fitur-fitur baru tersebut pada November.
Kemampuan pembuatan gambar Grok telah menuai kritik dari regulator global menyusul maraknya gambar hasil AI yang menampilkan seksualisasi terhadap perempuan dan anak-anak di X.
Hingga Jumat, Grok memberi tahu pengguna X bahwa mereka memerlukan langganan berbayar untuk menghasilkan dan mengedit gambar. Fitur-fitur tersebut awalnya diperkenalkan secara gratis di X dengan batas harian.
Indonesia memblokir akses ke Grok setelah penyelidikan terhadap sistem AI tersebut terkait pembuatan konten seksual.
Pekan ini, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendesak X milik Musk untuk segera “membereskan masalahnya” terkait gambar-gambar seksual tersebut.
Menteri Teknologi Liz Kendall memperingatkan dalam pernyataan pada Jumat bahwa pemerintah dapat “memblokir layanan agar tidak dapat diakses di Inggris, jika mereka menolak mematuhi hukum Inggris.”
Regulator Eropa, khususnya, telah meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan dengan fokus pada misinformasi, moderasi konten yang tidak memadai, serta kekurangan dalam transparansi.
Pada Juli, otoritas Prancis meminta perusahaan untuk membagikan algoritmanya sebagai bagian dari penyelidikan atas dugaan bias dan manipulasi. Saat itu, X menyatakan tidak akan memenuhi permintaan tersebut dan menuduh penyelidikan itu bermotif politik.
(bbn)





























