Brown telah memegang peran kepemimpinan di NBPA, serikat yang mewakili para pemain NBA, sejak 2019. Serikat tersebut dan para pemilik tim mencapai perjanjian kerja bersama (collective bargaining agreement/CBA) terbaru pada 2023, yang berlaku hingga musim 2029–30. Meski CBA itu mengizinkan pemain memiliki kepemilikan terbatas di perusahaan publik yang terkait dengan kepentingan kepemilikan NBA, perjanjian tersebut pada dasarnya melarang investasi langsung di tim.
Sejak kesepakatan itu ditandatangani, sejumlah waralaba papan atas liga telah berpindah tangan dengan valuasi yang mencengangkan.
Boston Celtics diakuisisi tahun lalu dalam transaksi senilai US$6,1 miliar oleh konsorsium investor yang dipimpin Bill Chisholm, salah satu pendiri perusahaan ekuitas swasta STG Partners yang berbasis di California. Saat itu, transaksi tersebut merupakan yang terbesar dalam sejarah NBA — namun rekor itu hanya bertahan beberapa bulan. Pada Oktober, miliarder Mark Walter membeli Los Angeles Lakers dalam kesepakatan yang menilai waralaba tersebut sebesar US$10 miliar.
Keuangan liga juga terdongkrak oleh kesepakatan hak siar media yang baru. Pada 2024, NBA menandatangani kontrak media baru berdurasi 11 tahun yang menguntungkan dengan Walt Disney Co., NBCUniversal, dan Amazon.com Inc., yang dilaporkan akan menghasilkan total US$76 miliar bagi liga.
Sepanjang kariernya, Brown dikenal vokal dalam isu ketimpangan dan rasisme. Ia juga mendorong para pemain untuk memiliki kendali lebih besar atas cara mereka digambarkan serta kemampuan mereka untuk bersuara mengenai isu-isu yang mereka pedulikan. Brown pernah menjadi dosen tamu di Harvard Graduate School of Education dan memiliki kemitraan dengan Media Lab Massachusetts Institute of Technology.
Pada 2024, Brown meluncurkan BostonXChange, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan mendukung para wirausahawan dan usaha kecil yang kurang terlayani, dengan target menciptakan kekayaan lintas generasi senilai US$5 miliar bagi komunitas kulit berwarna di Boston. Brown mengatakan gagasan itu terbentuk setelah ia menandatangani perpanjangan kontrak lima tahun senilai US$303,7 juta dengan Celtics — yang saat itu merupakan kontrak terbesar dalam sejarah NBA — dan ia ingin menginvestasikan kembali ke Boston.
Akselerator tersebut “memberikan kelompok orang-orang berbakat yang ada di sini, yang merupakan kelompok minoritas, kesempatan untuk menang di kota tempat mereka lahir dan dibesarkan,” kata Brown.
XChange merupakan bagian dari rencananya untuk membangun versi modern dari Black Wall Street, sebuah komunitas kulit hitam di Tulsa, Oklahoma, yang dihancurkan dalam pembantaian rasial pada 1921.
Sebuah studi oleh Federal Reserve Bank of Boston yang diterbitkan pada 2015 menemukan bahwa kekayaan bersih median penduduk kulit hitam kelahiran AS di wilayah Boston hanya sebesar US$8, dibandingkan hampir US$250.000 bagi penduduk kulit putih — temuan yang kerap dikutip Brown sebagai motivasi atas upaya-upayanya.
Tahap awal organisasi BostonXChange milik Brown adalah program inkubator dan akselerator yang memberikan hibah hingga US$100.000 kepada para pemohon selama tiga tahun. Para pesertanya termasuk produsen pakaian olahraga, bisnis nutrisi anak, serta aplikasi pemasaran berbasis kecerdasan buatan.
Pada Kamis, Brown mengatakan ia berencana meluncurkan putaran kedua pendaftaran untuk program inkubator tersebut, meski waktu pelaksanaannya belum ditetapkan.
Ia juga memperluas inisiatif tersebut ke kawasan Bay Area, California — tempat ia berkuliah di University of California, Berkeley — melalui kemitraan dengan mantan pemain NBA sekaligus pelatih Dallas Mavericks, Jason Kidd. Oakland XChange memiliki tujuan serupa untuk mendukung para wirausahawan.
Di lapangan, Brown juga meningkatkan performanya musim ini, memimpin Celtics meraih salah satu rekor terbaik di Wilayah Timur meskipun sesama All-Star Jayson Tatum harus menepi sejauh musim ini akibat cedera Achilles. Bulan lalu, Brown menyamai rekor tim milik Larry Bird dengan sembilan pertandingan beruntun mencetak setidaknya 30 poin.
(bbn)






























