Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, dia menyarankan beras tidak diperuntukkan bagi semua penduduk di Indonesia khususnya di Papua yang merupakan penghasil sagu. Jika preferensi masyarakat tetap menggunakan beras, sagu dapat dibuat tepung dan diolah menjadi beras analog yang bentuknya persis beras. 

“Sagu itu pun bisa kompetitif dengan beras mestinya ya, apakah ada problem teknologi? Nggak sebetulnya nggak ada problem karena angka partisipasi konsumsi beras itu kita sudah 100% jadi enggak ada wilayah satupun di negeri ini yang tidak makan beras,” imbuhnya. 

Diketahui, untuk perhitungan harga eceran tertinggi (HET), pemerintah menetapkannya berdasarkan sistem zonasi. Zona 1 meliputi Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi. Zona 2 untuk Sumatra selain Lampung dan Sumatra Selatan, NTT, Kalimantan. Zona 3 untuk Maluku dan Papua.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyatakan capaian swasembada beras tecermin dari jumlah produksi beras sepanjang Januari—Desember 2025 yang mencapai 34,17 juta ton. Amran menyebut bahwa jumlah cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog tercatat sebanyak 3,24 juta ton hingga akhir 2025, dan sempat menyentuh angka 4 juta ton.

Di saat produksi surplus dan cadangan melimpah, harga beras di tingkat konsumen belum menunjukkan tren penurunan alias masih berada di level tinggi. Harga beras masih tinggi melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan yakni Rp13.500/kg - Rp15.800/kg. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren kenaikan harga beras di dalam negeri masih berlanjut. Pada Desember 2025, rerata harga beras di tingkat penggilingan naik 1,26% secara bulanan dan 6,38% secara tahunan menjadi Rp13.488 per kilogram. 

“Menurut kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 2,62% secara month-to-month, dan naik 6,92% secara year-on-year. Sementara beras medium naik 0,67% secara month-to-month, dan naik 6,72% secara year-on-year,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026). 

Kondisi serupa juga terjadi pada rata-rata harga beras di tingkat eceran dan grosir yang naik secara bulanan dan tahunan. Di tingkat eceran, harga beras mencapai Rp15.081/kg, sedangkan di tingkat grosir menjadi Rp14.162/kg.

Menyitir Panel Harga Badan Pangan Nasional pukul 10.10, harga beras premium nasional mencapai Rp15.447/kg sementara harga di Zona 1 di level Rp14.720/kg atau turun 1,21% dari HET. Harga beras premium di Zona 2 mencapai Rp16.083/kg atau naik 4,44% sedangkan di Zona 3 tembus Rp17.718/kg atau naik 12,14%. 

Jika diperinci, harga beras premium di Maluku mencapai Rp17.718/kg atau naik 12,14% dari HET. Kemudian di Papua harganya mencapai Rp18.714/kg atau naik 18.44% dan di Papua Barat tembus Rp19.000/kg atau naik 20,25% dari HET. 

Adapun harga rerata beras medium nasional mencapai Rp13.433/kg. Harganya di Zona 1 mencapai Rp12.984/kg, Zona 2 Rp13.776/kg, dan Zona 3 Rp15.026/kg

(ell)

No more pages