Logo Bloomberg Technoz

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp16.870/US$ sebagai level paling pesimistis dalam tren jangka pendek (short-term).

Sebaliknya nilai rupiah memiliki level resistance terdekat pada level Rp16.750/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp16.700/US$ juga sebagai resistance potensial.

Dominasi Kondisi Domestik

Setidaknya, kemarin Bank Indonesia memberikan sedikit kabar baik dengan kenaikan posisi cadangan devisa sebesar US$6,4 miliar menjadi US$156,5 miliar pada Desember 2025. Cadangan devisa tersebut diperoleh dari hasil penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global, dan pernarikan pinjaman pemerintah. 

Cadangan devisa ini jadi level tertinggi sejak Maret 2025, dan dapat menutupi kebutuhan impor serta pembayaran utang luar negeri selama 6,3 bulan. Cadangan ini dapat menjadi penopang laju penguatan rupiah, yang jadi mata uang terlemah kedua di Asia, setelah rupee India. 

Namun, di tengah ketidakpastian geopolitik membuat alarm risk-off para pemodal tertap menyala. Kondisi ini berpotensi membuat rupiah akan mengalami pelemahan terpanjang dalam tiga bulan dan dapat menggerus menggerus cadangan devisa seperti yang terjadi pada awal kuartal II-2025. 

Di tengah rilisnya data-data ekonomi yang belum menggembirakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan defisitnya yang hampir 3%, menambah beban bagi rupiah. 

Defisit APBN sebesar 2,92% disebabkan oleh shortfall penerimaan yang dikontribusikan oleh realiasai pendapatan negara sebesar 96,19% atau Rp2.756,30 tirliun, dan penyusutan penerimaan pajak sebesar -0,77% secara tahunan menjadi Rp1.917,60 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak yang turun -8,60% menjadi Rp534,10 triliun. 

(riset/aji)

No more pages