Bitcoin Berbalik Arah ke US$90.000, Fondasi Terbukti Belum Kokoh
Redaksi
08 January 2026 16:03

Bloomberg Technoz, Jakarta - Alih-alih merangkak ke level US$100.000 seperti harapan para trader di pasar, realisasi pergerakan aset kripto Bitcoin justru berbalik arah melemah. Posisi aset digital paling berharga di dunia ini turun 2,7% mendekati US$90.300 pada pertengahan pekan di awal tahun ini.
Secara tren perdagangan 24 jam terakhir tampak garis yang melandai hingga menyentuh posisi US$90.105 hingga pukul 16.00 waktu Indonesia, Kamis (8/1/2026), namun masih mencatatkan 3,3% secara year-to-date (ytd).
Hari Senin lalu gelombang optimisme di pasar aset kripto muncul dengan BTC kembali ke jalur tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Pergerakan menuju US$94.000 terjadi disinyalir karena efek rebound di pasar ekuitas hingga logam mulia seperti emas batangan hingga perak. Para trader saat itu mencerna penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat.
Data mencatat dalam sepakan ini posisi Bitcoin tertinggi di US$94.689 dan terendah pada US$89.403, dan seperti banyak diperkirakan bahwa laju bullish BTC masih belum berpegangan pada fondasi yang kuat. Altcoin mengekor dengan posisi yang mayoritas melemah. Ethereum -4,4% ke level US$3.112, kemudian Solana -2,9% ke US$135 serta XRP yang jatuh lebih dalam, -7,2% ke US$2,11.
Terhentinya reli juga diperkirakan akibat munculnya lonjakan tekanan jual sekaligus menjadi hambatan dalam jangka pendek. Menurut peneliti senior di HashKey Group, Tim Sun, pasar masih belum masuk ke ‘fase ofensif’ lewat dorongan sentimen dan leverage tinggi. “Momentum kenaikan yang hilang dalam periode lanjut ini yang menyebabkan Bitcoin terhenti setelah menyentuh US$94.000,” jelas dia dikutip dari Decrypt.































