Apakah Bitcoin sebagai 'Emas Digital' Masih Relevan di 2026?
Farid Nurhakim
19 February 2026 13:32

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mantra Bitcoin adalah “emas digital” jadi pertanyaan paling kritik akhir-akhir ini karena runtuhnya harga BTC secara permanen, bahkan telah mendekati diskon 50% dibandingkan posisi terbaik (all time high/ATH) bulan Oktober 2025.
Hingga pukul 13.30 waktu Indonesia, Kamis (19/2/2026), Bitcoin mencatat penurunan 1,2% ke level US$66.833,28 jika dibandingkan dengan posisi 24 jam perdagangan terakhir, dan dalam saatu bulan mencatatkan rapor merah atau -26,7% (mtm).
Perilaku Bitcoin pada 2025 dan awal 2026 semakin dinilai kurang menyerupai emas digital dan lebih bergantung pada rezim pasar. Terkadang Bitcoin diperdagangkan bak teknologi beta, perdagangan suku bunga dan durasi likuiditas, serta hanya sesekali seperti lindung nilai (hedging).
Pengaturan atas situasi Bitcoin dikatakan penting. Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), mempertahankan kisaran target suku bunga acuan (Fed fund rate) di level 3,5-3,75% pada 28 Januari 2026, yang memperkuat sikap memantau data mendatang daripada dorongan pelonggaran kebijakan moneter secara langsung, dilansir dari CryptoSlate, Kamis (19/2/2026).
Laporan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada Januari 2026 memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,3% pada tahun ini, dengan investasi teknologi dan kondisi keuangan yang akomodatif mengimbangi hambatan perdagangan, suatu lingkungan yang cenderung membuat faktor risiko ekuitas dan teknologi tetap relevan. Dengan latar belakang tersebut, korelasi Bitcoin menunjukkan identitas mana yang tengah dominan.































