Logo Bloomberg Technoz

Defisit APBN terjadi karena total realisasi penerimaan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan negara sepanjang 2025 tercatat hanya Rp2.756 triliun. Angka ini haya 91,7% dari target sampai Desember 2025 yang sebesar Rp2.865 triliun.

Angka tersebut bahkan lebih rendah dibanding realisasi pendapatan negara sepanjang 2024 yang sebesar Rp2.850 triliun.

Di sisi lain, realisasi belanja negara sepanjang 2025 tercatat Rp3.451 triliun. Angka ini tercatat 95,3% dari target yang sebesar Rp3.527 triliun. Kendati demikian, realisasi belanja melonjak dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp3.359 triliun.

"Pendapatan hanya 91% tapi belanja 95,3%, kenapa tidak diblokir anggarannya? saya jawab bahwa ketika ekonomi menurun, kita harus memberi stimulus pada perekonomian," papar Purbaya.

"Ini wujud komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh berkesinambungan tanpa membahayakan APBN. Kami pastikan jaga bahwa defisit tidak di atas 3% (terhadap PDB)," lanjut Bendahara Negara.

Dengan demikian, pembiayaan anggaran negara tercatat tembus Rp744 triliun atau 120% dari target yang sebesar Rp662 triliun. Angka ini juga lebih besar dibanding realisasi utang pada periode yang sama tahun lalu, yang tercatat hanya Rp554,8 triliun.

(lav)

No more pages