Yusuf mengatakan, proyeksi tersebut juga tak lain disebabkan oleh realisasi penerimaan pajak yang dipastikan akan mengalami shortfall. Dia memperkirakan penerimaan pajak dan kepabeanan hanya sekitar Rp2.185 triliun—Rp2.195 triliun atau 91,5% dari target.
Namun, dia menggarisbawahi jika realisasi pajak secara umum masih cukup relatif mengalami kemajuan, tetapi tetap dibebankan oleh perlambatan ekonomi yang turut penekan pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) Badan.
Sementara itu, lanjut dia, realisasi kepabeanan dan cukai juga masih sedikit di bawah target akibat melemahnya impor dan konsumsi, meskipun deviasinya tidak sebesar PNBP.
"Penyebab utamanya sangat jelas, yakni anjloknya pajak dan PNBP akibat harga komoditas yang jauh lebih rendah dari asumsi APBN, produksi migas yang tidak optimal, serta kontribusi dividen BUMN yang lebih kecil."
Kementerian Keuangan akan mengumumkan kinerja realisasi APBN 2025 pada hari ini, Kamis (8/1/2026) yang akan langsung dipimpin oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan jajarannya.
Pada November 2025 lalu, otoritas fiskal melaporkan penerimaan negara sampai November 2025 tercatat Rp2.351 triliun, turun 5,67% secara tahunan (yoy), dan baru 82,1% dari target.
Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp2.911,8 triliun. Meski naik tipis 0,59% yoy, namun namun masih 82,5% dari target yang dipatok sebesar Rp3.527,5 triliun.
Dengan demikian, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai November 2025 tercatat Rp560,3 triliun atau 2,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari realisasi November 2024 yang masih 1,82%.
(lav)





























