Logo Bloomberg Technoz

Dengan begitu, jika rupiah melemah terhadap dolar AS, keuntungan dari turunnya harga minyak dunia bisa tertekan oleh mahalnya biaya kurs.

Harga minyak mentah Brent per 7 Januari 2026./dok. Bloomberg

Ketergantungan Impor

Selain itu, kata Sutopo, jika harga minyak dunia terus melandai gegara ketegangan tersebut, Indonesia berisiko mengalami ketergantungan impor komoditas energi. 

Alasannya, harga impor berpotensi lebih murah daripada hasil produksi dalam negeri.

“Secara keseluruhan, masuknya AS ke Venezuela adalah pedang bermata dua bagi Indonesia: satu sisi memberikan stabilitas biaya energi, namun di sisi lain menuntut kita untuk lebih waspada terhadap ketahanan energi jangka panjang dan menekan mata uang,” ungkap Sutopo.

Sekadar catatan, harga minyak mentah pagi ini sedikit naik karena para pedagang mencerna lebih banyak langkah dari AS terkait dengan Venezuela, termasuk rencana untuk mengontrol penjualan minyak mentah pada masa mendatang tanpa batas waktu dan penyitaan dua kapal tanker yang dikenai sanksi.

Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik 0,6% menjadi US$56,32/barel pada pukul 08.31 di Singapura. Harga Brent untuk penyelesaian Maret ditutup 1,2% lebih rendah pada US$59,96/barel pada Rabu (7/1/2026).

Pasar masih mencermati dampak penggulingan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS, serta implikasinya terhadap ekspor minyak dan industri energi negara tersebut.

Trafigura Group dan sejumlah pedagang lainnya dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan pemerintah AS mengenai kemungkinan kembali membeli minyak mentah Venezuela.

Dalam perkembangannya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS.

Dia menegaskan bahwa minyak tersebut akan dijual, di mana hasilnya akan memberikan keuntungan bagi kedua pihak.

“Saya dengan bangga mengumumkan bahwa Otoritas Interim di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 JUTA barel minyak berkualitas tinggi yang terkena sanksi kepada Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahannya di media sosial, Selasa (6/1/2026).

“Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang tersebut akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan dana tersebut digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tambah Trump.

Menyusul pernyataan tersebut, harga WTI yang menjadi tolok ukur minyak AS, sempat anjlok hingga 2,4%.

Jika akurat, volume yang disebutkan Trump setara dengan sekitar 30 hingga 50 hari produksi minyak Venezuela sebelum diberlakukannya blokade parsial AS terhadap negara tersebut — angka yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat produksi historis.

Dengan harga WTI saat ini, nilai minyak tersebut bisa mencapai hingga US$2,8 miliar.

Sekadar informasi, berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia pada 2023 sebesar 303 miliar barel atau setara 17% dari cadangan minyak mentah dunia.

Jumlah tersebut mengalahkan cadangan minyak mentah yang dimiliki negara-negara Timur Tengah.

Berdasarkan data tersebut, produksi minyak Venezuela sempat berada di sekitar 2,6 juta barel per hari pada 2011 hingga 2014, sebelum akhirnya menurun ke 2,5 juta juta barel per hari pada 2015.

Lalu, pada 2016 produksi minyak mentah Venezuela tercatat sebanyak 2,3 juta barel per hari, 2017 sebesar 2,06 juta barel per hari, 2018 1,5 juta barel per hari. 

Kemudian, memasuki 2019 produksi minyak Venezuela berada di bawah 1 juta barel per hari yakni 928.000 barel per hari.

(azr/wdh)

No more pages