Pegawai tersebut memberi tahu NRA bahwa ponsel itu, yang berisi informasi seperti nama dan kontak orang-orang yang bekerja di lembaga tersebut, kemungkinan hilang di sebuah bandara, kata pejabat NRA kepada Bloomberg News pada Rabu.
Pejabat itu menolak menyebutkan di negara mana perangkat tersebut hilang karena kejadian itu terjadi saat perjalanan pribadi.
Kyodo News melaporkan bahwa pegawai tersebut menghubungi sebuah bandara di Shanghai setelah menyadari ponselnya hilang, namun tidak berhasil menemukannya.
Insiden ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian kesalahan yang berisiko merusak kepercayaan publik terhadap pengawasan nuklir, pada saat Jepang mendorong untuk memulai kembali armada reaktor yang sebelumnya dihentikan operasinya.
Pada 2023, seorang pegawai Tokyo Electric Power Co., operator pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia, meletakkan setumpuk dokumen di atas mobil sebelum berkendara dan kemudian kehilangan dokumen-dokumen tersebut.
Peristiwa ini juga menyusul pengumuman oleh sebuah perusahaan utilitas regional besar pada Senin bahwa mungkin telah terjadi pelanggaran dalam cara penyusunan data keselamatan utama, yang berpotensi menimbulkan penundaan lebih lanjut terhadap dimulainya kembali pembangkit listrik tenaga nuklirnya.
Proses regulasi yang ketat telah menunda Jepang untuk menghidupkan kembali sebagian besar reaktor nuklirnya yang ditutup setelah bencana Fukushima pada 2011.
(bbn)































