Logo Bloomberg Technoz

Ketegangan China–Jepang Membayangi Bursa Saham Asia

News
07 January 2026 06:30

Ilustrasi aktivitas pekerja pada perdagangan bursa Asia. (Dok Bloomberg)
Ilustrasi aktivitas pekerja pada perdagangan bursa Asia. (Dok Bloomberg)

Rob Verdonck dan Ira Iosebashvili - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan akan sedikit melandai setelah mencatatkan awal tahun terbaik. Meski demikian, optimisme terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan ekspektasi pelonggaran kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) tetap berhasil mendorong bursa saham Amerika Serikat (AS) ke rekor tertinggi baru.

Kontrak berjangka untuk Tokyo merosot lebih dari 1% setelah China memberlakukan kontrol ekspor ke Jepang untuk barang-barang yang berpotensi memiliki fungsi militer. Langkah ini memicu eskalasi ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia tersebut. Di sisi lain, kontrak untuk Hong Kong sedikit melemah, sementara Sydney justru menguat setelah indeks S&P 500 naik 0,6%, melampaui rekor penutupan akhir Desember lalu. Penguatan harga logam berhasil menutupi penurunan harga minyak, mendorong indeks komoditas Bloomberg ke level tertinggi dalam tiga tahun.


Para investor saham sejauh ini cenderung mengabaikan ketegangan di Venezuela dan memilih untuk melanjutkan tren bullish tiga tahun terakhir yang didorong oleh tingginya permintaan saham terkait AI. Data indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Selasa (6/1) justru memperkuat harapan akan pemangkasan suku bunga, sementara data aktivitas bisnis dan pasar tenaga kerja lainnya dinanti akhir pekan ini.

Tema AI tetap menjadi fokus utama menyusul serangkaian pembaruan dari perusahaan teknologi di ajang pameran dagang CES di Las Vegas. Beberapa saham teknologi yang menguat pada Selasa mencakup Amazon.com Inc, Micron Technology, dan Microsoft Corp.

Pergerakan bursa saham. (Sumber: Bloomberg)