Logo Bloomberg Technoz

Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.800/US$ usai tertekan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp16.870/US$ yang merupakan All Time Low nya.

Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance psikologis potensial pada level Rp16.720/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan untuk kembali melangkahi level Rp16.700/US$.

Tekanan Bagi Rupiah

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS jadi eksalasi geopolitik dan menciptakan ketidakstabilan bagi pasar mata uang.

Kejadian ini menunjukkan bahwa bentuk konflik geopolitik tak lagi sekadar sanksi ekonomi atau tekanan diplomatik. Lebih dari itu, sekarang bentuknya berubah jadi lebih koersif. 

Bagi pasar keuangan, pergeseran ini dianggap sebagai lonjakan sistemik yang dapat memengaruhi tatanan perdagangan internasional. 

Kemarin, hampir semua mata uang di pasar Asia terdampak oleh konflik ini. Saat ini, investor memasang mode waspada, bukan lagi hati-hati.

Sebab, penangkapan Maduro memicu kekhawatiran lebih luas seperti potensi terjadinya ketidakstabilan pasokan energi global, fragmentasi geopolitik yang makin tajam, juga meningkatnya risiko policy miscalculation, atau adanya salah perhitungan dalam pengambilan keputusan lantaran pembuat kebijakan salah menilai dampak, respons, atau konsekuensi lanjutan. 

Dari sisi internal, rilisnya sejumlah data domestik seperti tingkat inflasi mencapai 2,92% dapat menekan rupiah lebih dalam. Banjir di Sumatera mendorong kenaikan inflasi pangan dan energi, masing-masing menjadi 5,38% dan 0,66% secara tahunan. 

Tekanan inflasi diprediksi akan berlanjut lantaran di kuartal I-2026 ada faktor musiman bulan puasa pada Februari. "Inflasi diperkirakan meningkat ke sekitar 4,90% secara tahunan," kata Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, dalam laporannya, Senin (5/1/2026). 

Di sisi lain, data realisasi ekspor-impor juga tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Data ekspor tercatat -6.60%, lebih rendah dari ekspektasi sebesar -1,85%. Begitu juga dengan realisasi impor 0,46% jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 3,61%. 

(riset/aji)

No more pages