“Saya berharap dapat membuka era baru hubungan Korea Selatan-China bersama Anda,” ujar Lee kepada Xi. “KTT ini akan menjadi peluang penting untuk menjadikan tahun 2026 sebagai tahun perdana pemulihan penuh hubungan kedua negara.”
Pembicaraan ini berlangsung di tengah situasi geopolitik yang memanas. Hanya beberapa hari sebelumnya, AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Sementara dari kawasan sekitar, Korea Utara menembakkan rudal hipersonik pada hari Minggu, tepat saat Lee mendarat di China—sebuah pengingat nyata atas ancaman keamanan yang dihadapi Seoul.
Lee mendesak Beijing untuk membantu Seoul memajukan perdamaian di Semenanjung Korea. “Perdamaian adalah fondasi mendasar bagi kemakmuran dan pertumbuhan. Sangat penting bagi kedua negara kita untuk bekerja sama berkontribusi di dalamnya,” tegas Lee.
Sengketa China-Jepang
Kunjungan Lee juga dilakukan saat hubungan China dan Jepang memburuk tajam setelah PM Jepang Sanae Takaichi mengisyaratkan kesiapan militer Tokyo jika Beijing menyerang Taiwan. Menanggapi hal ini, Xi menyinggung perjuangan bersama China dan Korsel melawan militerisme Jepang 80 tahun silam. Xi mengajak Seoul untuk “bergandengan tangan mempertahankan hasil kemenangan Perang Dunia II dan menjaga perdamaian di Asia Timur Laut.”
Terkait isu Taiwan, Lee menegaskan kembali penghormatan negaranya terhadap kebijakan "Satu China".
Bagian penting dari agenda Lee adalah mengupayakan pencabutan larangan informal China terhadap konten budaya Korea. Berbicara di forum bisnis, Lee menyerukan penguatan kerja sama di bidang AI, barang konsumsi, dan industri kreatif untuk memperluas perdagangan bilateral yang tertahan di level US$300 miliar.
“Menjelajahi rute dan pasar baru adalah suatu keharusan,” kata Lee, menyebut produk kecantikan, film, musik, dan game sebagai sektor terobosan baru.
Lee didampingi oleh para raksasa bisnis Korea Selatan, termasuk Bos Samsung Electronics Jay Y. Lee, Chey Tae-won dari SK Group, dan Euisun Chung dari Hyundai Motor Group. Kedua negara menandatangani 14 Nota Kesepahaman (MoU) dan sepakat meluncurkan saluran dialog perdagangan tingkat menteri yang akan dimulai pada paruh pertama tahun ini.
Sejak menjabat pada Juni 2025, Lee Jae-myung menunjukkan pendekatan kebijakan luar negeri yang lebih berimbang dibandingkan pendahulunya, Yoon Suk-yeol, yang sangat memprioritaskan hubungan dengan Washington. Namun, status Korsel sebagai sekutu AS tetap membatasi ruang geraknya untuk semakin mendekat ke China.
Kunjungan Lee yang berlangsung hingga Rabu itu juga mencakup pertemuan dengan Perdana Menteri Li Qiang serta kunjungan ke Shanghai, termasuk ke sebuah gedung yang pernah menjadi lokasi pemerintahan Korea di pengasingan pada masa penjajahan Jepang sebelum Perang Dunia II.
(bbn)





























