Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan kinerja ekspor batu bara itu sejalan dengan koreksi ekspor bahan bakar mineral (HS 27) ke China dan India.

Adapun, ekspor bahan bakar mineral ke China anjlok 27,18% menjadi US$9,16 miliar dan ekspor ke India susut 24,70% ke level US$4,89 miliar.

“Nilai ekspor nonmigas China sebesar US$58,24 miliar didominasi besi dan baja,” kata Pudji.

Kendati demikian, kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan Indonesia lainnya seperti besi dan baja serta CPO dan turunnya kompak mencatatkan penguatan.

Ekspor besi dan baja lompat 9,12% ke level US$25,57 miliar dari posisi tahun sebelumnya di angka US$23,43 miliar.

Selain itu, kinerja ekspor CPO dan turunannya melonjak 19,15% ke level US$21,63 miliar, dari posisi periode tahun sebelumnya di angka US$18,15 miliar.

“Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 19,15% secara kumulatif,” tuturnya.

Secara keseluruhan, BPS melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada November tercatat mengalami surplus sebesar US$2,66 miliar. Ini merupakan surplus 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Kinerja neraca dagang kali ini lebih rendah dibanding proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan neraca perdagangan akan surplus US$3,06 miliar, lebih tinggi ketimbang Oktober yang sebesar US$ 2,39 miliar.

Pudji menjelaskan surplus neraca perdagangan pada November 2025 ini lebih ditopang surplus komoditas nonmigas, yakni sebesar US$4,64 miliar.

Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas mengalami defisit US$1,81 miliar dengan komoditas penyumbang defisit ialah minyak mentah dan hasil minyak.

Sebelumnya, konsensus ekonom/analis yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,06 miliar. Lebih tinggi ketimbang Oktober yaitu US$ 2,39 miliar.

Meski demikian, ada risiko surplus neraca perdagangan bisa kian menyusut. Ini karena target ambisius pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, yang bisa berdampak kepada lonjakan impor.

(naw)

No more pages