Sebelumnya, konsensus ekonom/analis yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,06 miliar. Lebih tinggi ketimbang Oktober yaitu US$ 2,39 miliar.
Meski demikian, ada risiko surplus neraca perdagangan bisa kian menyusut. Ini karena target ambisius pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, yang bisa berdampak kepada lonjakan impor.
“Surplus akan terjaga meski mungkin menipis karena kemungkinan laju impor akan melampaui ekspor karena kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan ekonomi. Kebanyakan impor berupa barang modal atau bahan baku untuk keperluan produksi dan investasi,” sebut Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), beberapa waktu lalu.
(lav)
No more pages





























