Logo Bloomberg Technoz

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan kepada wartawan bahwa dalam pertemuannya dengan Trump pada Minggu, ia meminta jaminan keamanan yang dapat berlaku hingga setengah abad. Sementara itu, proposal yang saat ini dibahas menetapkan masa berlaku 15 tahun dengan kemungkinan perpanjangan.

“Kami juga meluangkan waktu untuk membahas paket kemakmuran bagi Ukraina—bagaimana terus mendefinisikan, menyempurnakan, dan mendorong konsep-konsep ini agar Ukraina dapat sukses, tangguh, dan benar-benar bangkit setelah perang berakhir,” ujar Witkoff.

Panggilan tersebut juga diikuti oleh perwakilan dari Inggris, Jerman, dan Prancis. Witkoff menambahkan bahwa diskusi akan berlanjut pada tahun baru.

Utusan utama Ukraina, Rustem Umerov, mengatakan dirinya tengah mempersiapkan pertemuan dengan para pejabat keamanan dari mitra Eropa dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Januari.

Panggilan pada Rabu itu berlangsung di tengah maraknya aktivitas diplomatik, seiring upaya Trump mengamankan akhir perang Ukraina—konflik yang sebelumnya ia janjikan akan dihentikan pada hari pertama kembali menjabat. Namun, upaya tersebut kembali menemui hambatan pekan ini, ketika Trump tampak menunjukkan ketidakpuasannya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.

Setelah Trump dan Zelenskiy menyampaikan optimisme atas perundingan damai pada Minggu, Putin justru meredam harapan akan penyelesaian cepat. Dalam percakapan telepon pada Senin, Putin mengatakan kepada Trump bahwa Kremlin akan merevisi posisi negosiasinya, dengan klaim bahwa drone Ukraina menargetkan salah satu kediamannya.

Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa Rusia untuk menggagalkan perundingan damai. Trump mengatakan kepada wartawan awal pekan ini bahwa dirinya “sangat marah” atas dugaan insiden itu. Namun pada Rabu, ia membagikan editorial New York Post yang secara tajam mengkritik Kremlin dan menyerukan agar Trump “meningkatkan tekanan” terhadap Rusia.

Dalam unggahan di media sosial, Trump membagikan editorial berjudul “Putin ‘attack’ bluster shows Russia is the one standing in the way of peace” tanpa menambahkan komentar apa pun.

Editorial tersebut meragukan klaim Rusia, dengan menyatakan bahwa “sesuai pola, diktator Rusia Vladimir Putin memilih kebohongan, kebencian, dan kematian,” sekaligus memaparkan argumen untuk meningkatkan sanksi terhadap Moskow dengan pendekatan yang bersifat personal bagi sang presiden.

Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat Ukraina juga bekerja keras merevisi draf rencana 28 poin yang awalnya diusulkan Amerika Serikat namun dinilai terlalu menguntungkan Rusia. Versi terbaru kini berisi 20 poin, meski Moskow telah memperingatkan bahwa dokumen tersebut masih memuat sejumlah elemen yang tidak dapat diterima, termasuk terkait ukuran militer Ukraina pascaperang.

(bbn)

No more pages