Dalam waktu dekat, setidaknya hingga kuartal I-2026, harga CPO diperkirakan bisa mengalami reli. Trader veteran Dorab Mistry memperkirakan harga CPO bisa menyentuh MYR 5.500/ton, yang bila tercapai maka menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
“Ini bisa tercapai jika Indonesia melanjutkan penyitaan lahan kelapa sawit dan menerapkan kebijakan B50,” tegas Mistry, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Saat Indonesia menerapkan B50, maka ekspor CPO akan berkurang. Padahal Indonesia adalah produsen dan eksportir CPO terbesar dunia. Ketatnya pasokan dari Indonesia tentu akan mempengaruhi pembentukan harga.
“Kebijakan kewajiban pemenuhan domestik akan sangat bullish terhadap CPO,” lanjut Mistry.
Kebijakan di Amerika Serikat (AS), lanjut Mistry, juga akan berperan terhadap harga CPO. Negeri Paman Sam diperkirakan bakal mengintensifkan penggunaan bahan bakar nabati.
“Para politisi menyukai biofuel karena dinilai mampu membantu petani dan meredam dampak perubahan iklim,” katanya.
Mistry memperkirakan permintaan minyak nabati dunia pada 2025-2026 akan naik sekitar 6 juta ton. Sementara pasokan bertambah 4,2 juta ton.
“Izin pembukaan lahan sawit berkelanjutan di Indonesia akan diterbitkan setidaknya 250.000 hektar per tahun. Hanya Indonesia yang bisa menambah pasokan CPO,” tutur Mistry
(aji)






























