Logo Bloomberg Technoz

Secara sektoral, insentif KLM disalurkan kepada sektor-sektor prioritas yakni sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.

Ke depan, transmisi suku bunga yang lebih efektif diharapkan dapat mendorong permintaan kredit sehingga penyaluran kredit perbankan menjadi lebih tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan berbeda, Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro mengatakan, strategi BI tidak hanya mengandalkan instrumen kebijakan reguler dan makroprudensial, tetapi juga memperkuat koordinasi dan komunikasi kebijakan.

"Komunikasi dan koordinasi yang diperkuat untuk mendorong respons sisi demand (permintaan), respons sektor riil," kata Solikin dalam Taklimat media di Jakarta, Senin (22/12/2025). 

Selain itu, BI memperkuat koordinasi lintas otoritas, termasuk melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mengidentifikasi sektor-sektor prioritas yang mampu mendorong aktivitas ekonomi dan meningkatkan serapan kredit.

Salah satu langkah BI yang akan diperkuat oleh BI yakni melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi) untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif yang nantinya akan disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo. 

"Hal yang utama di luar itu adalah, membangun persepsi confidence ekonomi, sehingga memang kenapa kebijakan itu harus kredibel dan di okestrasikan dengan baik. Sehingga masyarakat itu gak merasa was-was, jadi dia itu. Jadi kredibel itu dalam pencapaian targetnya, juga harus kredibel komunikasinya jelas," tegasnya. 

Berdasarkan data BI, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan pada November 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.509,4 triliun atau 23,18% dari plafon kredit yang tersedia.

Solikin lebih lanjut menyebut, hal tersebut memang tidak terlepas dari perilaku pelaku usaha saat ini yang cenderung bersikap wait and see terhadap prospek ekonomi. 

Selain itu, korporasi memilih menahan penarikan kredit karena mempertimbangkan tingkat suku bunga yang relatif tinggi dan lebih mengandalkan dana internal.

Menurut data BI, kinerja kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74% secara tahunan (year-on-year/yoy), hanya naik tipis dibanding pertumbuhan pada bulan sebelumnya, yakni 7,36% (yoy).

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8-11% (yoy) dan akan meningkat pada 2026.

Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67% dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03% (yoy) pada November 2025.

Perkembangan ini turut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran Kebijakan Insentif Makroprudensial (KLM) BI, serta ekspansi keuangan pemerintah, termasuk penempatan dana pemerintah pada beberapa bank besar.

(lav)

No more pages