Strategi Halo BCA Perkuat Layanan dan Lindungi Nasabah

Bloomberg Technoz, Jakarta - Selaras dengan komitmen memberikan pelayanan berkualitas, PT Bank Central Asia Tbk terus mengintegrasikan teknologi digital dengan layanan fisik. Langkah ini ditempuh untuk melayani sekitar 43 juta rekening nasabah hingga akhir 2025 secara aman, cepat, dan relevan dengan kebutuhan yang kian beragam.
Salah satu wujud integrasi tersebut diwujudkan melalui Halo BCA sebagai pusat layanan terpadu. Kanal ini menjadi garda terdepan BCA dalam menjawab kebutuhan informasi, transaksi, hingga penanganan laporan, termasuk kasus kriminalitas yang menimpa nasabah.
Dalam gelaran BCA Expoversary 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, EVP Contact Center and Digital Services BCA Adrianus Wagimin memaparkan kinerja Halo BCA sepanjang 2025. Ia menegaskan peran strategis Halo BCA dalam menjaga kepercayaan nasabah.
“Selama tahun 2025 Halo BCA telah melayani total interaksi nasabah sebanyak 30 juta interaksi, baik melalui telepon, chat, maupun media sosial. Termasuk di dalamnya permintaan penanganan atas kasus kriminalitas,” kata Adrianus Wagimin.
Angka interaksi tersebut mencerminkan tingginya intensitas kebutuhan layanan nasabah. Di tengah percepatan digitalisasi, kanal layanan harus mampu menjawab permintaan dengan cepat sekaligus memberikan rasa aman.
Data Indonesia Anti-Scam Center tahun 2025 menunjukkan sekitar 400 ribu laporan kriminalitas tercatat di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 23 ribu laporan diterima oleh Halo BCA, terutama terkait penipuan yang mengatasnamakan BCA.
Adrianus mengungkapkan bahwa modus kriminalitas yang kerap terjadi adalah scamming dan phishing. Kedua modus ini sering memanfaatkan nama institusi perbankan untuk mengelabui korban.
Iming-iming yang disampaikan pelaku beragam. Mulai dari janji keuntungan tertentu hingga menebarkan rasa takut agar target merasa terdesak dan mengikuti instruksi yang diberikan.
Akibat tekanan tersebut, nasabah kerap tanpa sadar memberikan informasi sensitif dan rahasia. Kondisi ini dimanfaatkan pelaku untuk mengambil alih akses rekening atau melakukan transaksi ilegal.
Adrianus juga menjelaskan perbedaan mendasar antara scamming dan phishing. Menurutnya, scamming adalah tindakan penipuan oleh pihak yang mengaku sebagai orang atau institusi lain.
Sementara itu, phishing pada prinsipnya merupakan praktik social engineering. Pelaku memanfaatkan kelengahan dan kurangnya pemahaman korban untuk mencuri data penting.
Pemahaman mengenai perbedaan ini dinilai penting agar nasabah lebih waspada. Edukasi menjadi salah satu kunci utama dalam mencegah kerugian yang lebih besar.
Strategi Digital Halo BCA Hadapi Modus Kriminalitas
Seiring kebutuhan nasabah yang semakin kompleks, Halo BCA terus melakukan penguatan layanan. Peningkatan ini tidak hanya berfokus pada kapasitas, tetapi juga pada kemudahan akses dan keamanan.
Kini, Halo BCA telah dilengkapi fitur Voice Internet Protocol Call. Fitur ini memungkinkan nasabah menghubungi Halo BCA tanpa menggunakan pulsa, cukup melalui aplikasi haloBCA.
Dengan fitur tersebut, hambatan biaya komunikasi dapat ditekan. Nasabah dapat mengakses bantuan kapan pun dan di mana pun dengan lebih nyaman.
Memasuki 2026, BCA kembali menambahkan berbagai fitur baru pada aplikasi haloBCA. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus efisiensi proses.
Adrianus menyebutkan sejumlah fitur yang ditambahkan, mulai dari live chat hingga pemantauan status laporan. Nasabah juga dapat melakukan buka blokir PIN kartu ATM secara mandiri.
Selain itu, aplikasi haloBCA kini mendukung pembaruan data, pengaturan OTP transaksi, serta persetujuan digital. Fitur-fitur ini dirancang untuk memberikan kontrol lebih besar kepada nasabah.
Pengembangan berkelanjutan ini mencerminkan komitmen BCA dalam menjawab kebutuhan layanan yang serba cepat dan aman. Digitalisasi dimanfaatkan untuk memperkuat pengalaman nasabah tanpa menghilangkan sentuhan layanan.
Sebagai langkah preventif dan edukatif, Halo BCA juga menggaungkan gerakan peningkatan kesadaran terhadap modus kriminalitas. Gerakan ini dilakukan bersama tim marketing communication dan corporate communication BCA.
“Kemudian sebagai langkah preventif dan edukatif untuk meningkatkan awareness nasabah agar tidak terdampak modus kriminalitas, Halo BCA menggaungkan gerakan yang dilakukan bersama marketing communication dan corporate communication BCA yang tentunya juga akan melibatkan seluruh frontliners BCA, yaitu gerakan #tanyaHaloBCAaja; lebih nyaman melalui aplikasi,” katanya.
Gerakan ini mengajak nasabah untuk selalu melakukan verifikasi melalui kanal resmi BCA. Dengan bertanya langsung ke Halo BCA, nasabah diharapkan terhindar dari informasi palsu.
Adrianus menambahkan bahwa BCA pada prinsipnya senantiasa mengutamakan kebutuhan nasabah. Perlindungan terhadap nasabah menjadi bagian integral dari strategi layanan.
Komitmen ini sejalan dengan keanggotaan BCA dalam Indonesia Anti-Scam Center OJK dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia. Melalui kolaborasi tersebut, BCA berupaya memperkuat perlindungan dari berbagai modus penipuan.
“Kami mengajak seluruh nasabah tercinta untuk melakukan langkah yang tepat, serta tetap aman dan nyaman dengan #tanyaHaloBCAaja,” tutup Adrianus.
Dengan integrasi teknologi digital dan layanan fisik, Halo BCA diposisikan sebagai pusat layanan yang adaptif. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan nasabah di tengah meningkatnya risiko kriminalitas digital.
Ke depan, BCA berkomitmen terus memperkuat sistem layanan dan edukasi. Melalui inovasi berkelanjutan, Halo BCA diharapkan menjadi mitra tepercaya nasabah dalam bertransaksi secara aman dan nyaman.






























