Logo Bloomberg Technoz

Perkembangan nilai tukar ringgit juga menjadi sentimen negatif bagi harga CPO. Sepanjang minggu lalu, ringgit menguat 0,33% terhadap dolar AS,

CPO adalah aset yang dibanderol dalam ringgit. Saat ringgit terapresiasi, maka kontrak CPO menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana proyeksi harga CPO untuk pekan ini? Apakah bakal melorot lagi atau bisa bangkit berdiri?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), CPO terbenam di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 40. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Namun indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 0. Paling rendah, sudah sangat jenuh jual (oversold).

Untuk perdagangan minggu ini, harga CPO berpotensi naik. Maklum, koreksinya sudah lumayan dalam. Selama sebulan terakhir, harga ambrol 2,62%.

Target resisten terdekat adalah Moving Average (MA) 5 di MYR 4.101/ton. Jika tertembus, mana MA-10 di MYR 4.230/ton bisa menjadi target selanjutnya.

Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah MYR 4.265/ton.

Namun apabila harga CPO malah turun lagi, maka MYR 4.002/ton bisa menjadi support terdekat. Support lanjutan ada di rentang MYR 3.964-3.889/ton.

Target paling pesimistis atau support terjauh ada di MYR 3.510/ton.

(aji)

No more pages