"Estimasi awal kami dari data yang ada, dampaknya yang terakhir, yaitu banjir ini sekitar Rp32,6 triliun. Tentu ini datanya terus bergulir dan berkembang," tutur dia.
Dalam kesempatan lain, Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan total kerugian imbas bencana banjir hingga longsor di Pulau Sumatra bulan ini mencapai hingga sebesar Rp68,67 triliun.
Perkiraan tersebut diungkapkan berasal dari hitung-hitungan sebanyak lima jenis kerugian yang dihadapi masyarakat setempat seperti kehilangan rumah/tempat tinggal, potensi kehilangan panen di lahan sawah, hingga perbaikan jalan.
"Bencana ekologis di Sumatera periode November 2025 diproyeksi telah mengakibatkan kerugian ekonomi Rp68,67 triliun," tulis Celios dalam risetnya, dikutip Selasa (2/12/2025).
Secara terperinci, kerugian kerusakan masing-masing per rumah ditaksir mencapai sebesar Rp30 juta. kemudian, kerugian pembangunan jembatan untuk biaya pembangunan kembali mencapai Rp1 miliar.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal VI-2025 hanya akan menyentuh sebesar 5,03%, di bawah target pemerintah yang mematok dikisaran 5,6-5,7%.
"Dengan bencana banjir Sumatera, pertumbuhan di kuartal IV diproyeksi 5,03%, meski ada momentum seasonal Nataru, tapi dampak banjir membuat logistik, industri dan pendapatan masyarakat menurun," ujarnya saat dihubungi, baru-baru ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III mencapai 5,04%. Meski lebih rendah dari kuartal sebelumnya, angka itu masih berada di atas 5%.
Dari total itu, pulau Sumatera turut menyumbang kontribusi PDB nasional dengan andil sebesar 22,42%, sekaligus menempati posisi kedua setelah pulau Jawa yang masih jadi kontributor utama sebesar 56,68% dari total PDB.
(lav)































