Adapun titik penyimpanan logistik disiapkan lewat udara ke Tapanuli Tengah, sementara Sibolga baru bisa terhubung melalui pengiriman khusus jalur laut dan sebagian tertentu via darat dari Tapanuli Tengah.
Untuk jalur pembukaan isolasi, BNPB mendukung penuh percepatan oleh Satgas Gabungan TNI–Polri.
Berdasarkan laporan Dandim, proses pembukaan ruas kritis di jalur penghubung Tapanuli—Sibolga diperkirakan membutuhkan 3—4 hari agar benar-benar tembus, sembari tim logistik udara melakukan dropping ke kantong warga terjebak.
Di sisi Aceh, Suharyanto menyampaikan bahwa tingkat keterisolasian juga masih tinggi pada sebagian kabupaten, mengingat banyak jalan antarkota strategis terputus akibat banjir dan longsor.
Rute dari Banda Aceh ke Lintas Tengah Aceh hingga Lhokseumawe masih mengalami putus akses, termasuk Gayo Lues ke Aceh Tenggara, Bener Meriah, Aceh Tengah, hingga Subulussalam.
BNPB memastikan penguatan kekuatan personel dan logistik di Aceh terus ditambah. “Kekuatannya sudah lebih banyak, sudah lebih penuh,” kata Suharyanto.
Namun, ia mengakui bahwa tantangan medan Aceh berbeda, banyak daerah “terputus-putus”, sehingga meski angka korban lebih kecil dibandingkan Sumut, upaya jangkau wilayahnya menuntut prioritas khusus dan ritme distribusi lebih rapat.
Per hari ini, BNPB mencatat korban di Aceh sebanyak 54 jiwa meninggal, 55 hilang, dan 8 mengalami luka. Area yang membutuhkan “dorong logistik tanpa henti” berfokus di Bener Meriah dan Aceh Tamiang, termasuk Aceh Tamiang.
“Di sana ada Bapak Kementerian Dalam Negeri RI dengan deputi bidang Rehabilitasi–Rekonstruksi, kami juga lengkap, termasuk Deputi Fajar. Hari ini kita dorong lewat darat, udara, dan laut,” ujarnya.
Bantuan logistik baik pangan pokok maupun kebutuhan dasar dijatuhkan dan didorong dari tiga reservoir buffer: Lanud Soewondo, Bandara Silangit, dan Bandara Pinangsori.
“Untuk permakanan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, satu minggu ke depan kami masih tersedia,” tegasnya.
Terakhir, Suharyanto kembali menekankan agar kepala daerah dan publik bersabar dan mengedepankan komunikasi krisis yang sejuk.
“Kami sudah kumpulkan para Bupati, sampaikan ke masyarakat bahwa Satgas Nasional fokus dulu ke Tapanuli Tengah dan Sibolga. Itu memang terisolir banget. Jangan sampai isunya seolah-olah kita tidak mampu mengatasi Tapanuli, khususnya Sibolga dan Tapteng,” kata dia.
(dec/wdh)






























