“Mungkin mereka khawatir takut karena wilayah tertutup dan bahan makanannya terbatas, sehingga hal itu dilakukan,” ujarnya.
Suharyanto mengakui adanya gelombang sentimen negatif di platform TikTok dan TikTok Lite, tetapi juga mendapat dukungan besar dari publik.
Dia menyebut bahwa komentar yang mendukung penanganan masih lebih dominan daripada kritik bernada korektif atau menghujat.
Meski demikian, dinamika opini digital ini menjadi perhatian prioritas BNPB agar narasi publik tetap seimbang.
Tantangan terbesar dalam respons bencana saat ini adalah tertutupnya jalur distribusi darat dari kawasan Tapanuli ke Sibolga.
Longsor dilaporkan menutup hampir 50 kilometer akses jalan, dengan segmen isolasi mencapai kurang-lebih 50 kilometer dan total area terdampak penutupan mendekati 50 kilometer.
“Rute ini sebetulnya pendek, tapi di lapangan hampir 50 kilometer tertutup, Bapak,” ujarnya.
Upaya pembukaan jalur terus dilakukan oleh Satgas Gabungan TNI–Polri. Berdasarkan laporan dari Dandim, pembukaan jalur diperkirakan membutuhkan 3—4 hari lagi untuk benar-benar tembus.
Sementara itu, ribuan warga dan banyak pejalan kaki terjebak di titik tengah longsor, enggan kembali ke Tapanuli Utara dan memilih menunggu pembukaan akses.
Untuk mengatasi kekosongan kebutuhan dasar, BNPB melakukan strategi “dorong tanpa henti” lewat udara dan darat.
Sebanyak 50 prajurit muda dari Kodim di-BKO dan Yonif 123/RW diturunkan dengan ransel membawa logistik untuk menjangkau warga yang terjebak.
“Mereka mendatangi pejalan kaki yang terjebak, sembari menunggu kendaraan mereka yang tak ingin ditinggalkan,” jelasnya.
Tapanuli Tengah juga menjadi fokus isolasi penanganan. Logistik udara diaktifkan melalui bandara lokal, yakni Bandara Pinangsori, yang bisa diakses menggunakan heli maupun pesawat kecil seperti Cessna 208 Caravan.
“Kalau dari Medan, dari mana-mana pakai pesawat kecil, ini bisa masuk,” ujarnya.
BNPB juga melaporkan adanya tiga stok penyangga permakanan dasar di Lanud Soewondo, Bandara Silangit, dan Bandara Pinangsori.
“Per hari ini, kebutuhan dasar untuk satu minggu ke depan masih tersedia,” kata Suharyanto.
Untuk memperkuat suplai dalam volume besar, pemerintah mengerahkan dua kapal penyangga logistik nasional, yakni dua KRI Banda Aceh dan satu KRI Teluk Youtefa yang berangkat dari Jakarta menuju Sibolga.
“Satu heli turun 900 kilogram, terkesan sedikit karena penduduknya banyak. Tapi logistik itu akan datang terus menerus. Nanti jika KRI bisa mendarat, arus barang akan jauh lebih nyaman,” tegasnya.
(dec/wdh)































