Suharyanto kembali menyoroti dua titik dengan urgensi tertingginya. “Nah, Kabupaten/Kota yang masih perlu mendapat perhatian serius adalah dua daerah. Yang pertama Tapanuli Tengah, yang kedua Sibolga,” tegasnya.
Tantangan utamanya adalah akses. “Mengapa ini mendapat perhatian penuh? Karena terisolasi. Jadi Tapanuli Tengah ini hanya bisa dicapai lewat udara, di mana di Tapanuli Tengah itu ada Kota Sibolga,” jelasnya.
Ia menambahkan, Sibolga sendiri hanya bisa diakses melalui darat dari Tapanuli Tengah dan via laut.
Untuk Aceh, ia menegaskan jumlah korban memang relatif lebih kecil dibanding Sumut, namun kompleksitas aksesnya jauh lebih berat. “Jumlah korban di Aceh lebih sedikit dari Sumatera Utara. Per hari ini baru terdata 54 jiwa meninggal, 55 hilang, dan 8 terluka,” katanya.
Kerusakan di Aceh tersebar, banyak kabupaten mengalami pemutusan akses, sehingga perlu perhatian khusus, terutama di Bener Meriah, Aceh Tamiang, hingga Gayo Lues dan Lhokseumawe.
Upaya distribusi bantuan dilakukan tiga dimensi. “Hari ini pendistribusian logistik berjalan secara darat, melalui udara, dan laut ke titik-titik terisolasi, khususnya Bener Meriah dan Aceh Tamiang,” terang Suharyanto.
Dukungan transportasi udara dilakukan lewat sayap militer, termasuk pengangkutan material tower darurat, genset cadangan, serta kebutuhan logistik strategis lainnya ke daerah sulit jangkauan.
Dari sisi jaringan komunikasi, Suharyanto menyampaikan kabar pemulihan awal yang cukup krusial bagi koordinasi operasinya. “Untuk Sumut, jalur komunikasi satgas dan personel Kodim di Sibolga dan Tapanuli Tengah relatif sudah bisa berkomunikasi,” katanya.
Di Sumatera Barat, ia menekankan situasinya mulai jauh lebih terkendali. “Padang jadi pusat perhatian regional. Ada 90 kematian di provinsi itu, terbesar disumbang oleh Kabupaten Agam,” jelas Suharyanto.
Dari 7 kabupaten/kota terdampak di barat, semuanya sudah bisa disuplai logistik lewat darat. “Untuk alutsista udara, hanya satu heli disiapkan sebagai cadangan,” tambahnya.
Menutup keterangan harian, Suharyanto menegaskan pola keterbukaan informasi kepada media akan diperbarui agar publik mengetahui progres pagi, siang, dan malam. “Nah, pukul 00.00, 12.00, dan 19.00 kami akan melaksanakan konferensi pers harian sampai kondisi pulih. Early warning harus menghadirkan early action,” pungkasnya.
(ell)





























