Logo Bloomberg Technoz

Tiang bambu dan jaring yang pernah menutupi bangunan yang kini hangus terbakar telah menjadi fokus utama penyelidikan. Kebakaran yang berkobar selama lebih dari 24 jam tersebut telah melalap kompleks dengan 2.000 unit apartemen.

Pertanyaan tentang pertanggungjawaban kini menjadi inti dari penyelidikan tersebut, terutama setelah pihak berwenang menangkap tiga tokoh senior dari perusahaan teknik yang melakukan renovasi atas dugaan pembunuhan tidak disengaja.

Korban tewas kini telah mencapai 94 orang. Jumlah ini melampaui korban tewas dalam tragedi kebakaran Grenfell Tower di London (72 orang pada Juni 2017), yang kemudian dianggap sebagai hasil dari "rangkaian kegagalan" oleh pemerintah dan industri konstruksi. Bencana ini sejauh ini merupakan kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak tahun 1957, ketika 59 orang tewas dalam bencana permukiman.

"Terlalu dini untuk menghakimi setiap pejabat atau bahkan perusahaan yang terlibat," kata anggota Dewan Legislatif Hong Kong, Regina Ip, kepada Bloomberg Television pada hari Jumat (28/11). "Saya pikir pemerintah harus mencermati undang-undang kita yang ada, dan apakah ada celah dalam persyaratan tentang bahan penghambat api."

Ip juga mempertanyakan mekanisme manajemen bangunan yang mengandalkan pemilik yang merupakan sukarelawan tidak berbayar untuk mengawasi pekerjaan renovasi. "Selalu ada keluhan tentang pemberian kontrak karena ada banyak persaingan untuk pekerjaan yang menguntungkan ini," tambahnya.

Proyek renovasi senilai HK$315,5 juta (sekitar Rp652 miliar) di perumahan di utara Hong Kong tersebut, yang dulunya merupakan rumah bagi 4.600 orang, dilakukan oleh Prestige Construction & Engineering Co. Perusahaan tersebut terlibat dalam 11 proyek bangunan perumahan lainnya di Hong Kong, menurut pemerintah.

Bloomberg News mengunjungi kantor Prestige pada hari Kamis, tetapi kantor tampak tertutup dan tidak ada respons ketika diketuk. Panggilan telepon ke kantor tersebut tidak terjawab.

Pihak berwenang masih menyelidiki penyebab kebakaran.

Menteri Keamanan Chris Tang mengatakan penyelidik menemukan papan busa (foam board) yang menutupi jendela di satu-satunya bangunan yang selamat dari delapan menara di kompleks itu. "Papan busa ini sangat mudah terbakar dan api menyebar sangat cepat, jadi kami menemukan keberadaannya tidak biasa," tambahnya. Tang juga menegaskan bahwa jaring dan lembaran plastik yang menutupi menara terbakar jauh lebih intens dari yang diperkirakan.

(bbn)

No more pages