Hermansyah menjelaskan sepanjang Januari—Oktober 2025, PHE telah mencatatkan produksi minyak sejumlah 556.000 barel per hari (MBOPD) dan produksi gas sebesar 2,79 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
Sebelumnya, Hermansyah menyatakan perseroan melakukan kegiatan eksploitasi sebanyak 661 sumur, workover 969 sumur, well service 28.507 sumur, survei seismik 2D sepanjang 109 kilometer (km), survei seismik 3D seluas 652 kilometer persegi (km2), serta eksplorasi sebanyak 15 sumur.
Selain itu, PHE turut mencatat penemuan sumber daya 2C mencapai 870 juta barel setara minyak (MMBOE).
Temuan besar di wilayah kerja Rokan menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan sumber daya tersebut, termasuk dari potensi migas nonkonvensional (MNK) di area Aman Trough K7A dan K7B serta penambahan cadangan P1 sebesar 149 juta barel setara minyak (MMBOE).
Untuk diketahui, PHE mencatat laba bersih senilai US$1,83 miliar (sekitar Rp30,6 triliun asumsi kurs Rp16.670/US$) sepanjang Januari—September 2025.
Posisi laba bersih itu susut 13,91% dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya sejumlah US$2,13 miliar (sekitar Rp35,54 triliun).
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir September 2025, PHE mencatat pendapatan usaha US$10,44 miliar (Rp174,5 triliun) atau susut 3,12% dari posisi tahun sebelumnya US$10,82 miliar (Rp180,8 triliun).
Sementara itu, beban eksplorasi tercatat naik menjadi US$274,1 juta dari sebelumnya US$194,8 juta. Kendati demikian, beban produksi mengalami penurunan dari US$3,37 miliar menjadi US$3,15 miliar.
Secara keseluruhan pada pos beban, perusahaan mencatat beban pokok penjualan US$6,98 miliar, relatif turun dari tahun sebelumnya senilai US$7,19 miliar.
Di sisi lain, jumlah liabilitas mengalami kenaikan menjadi US$17,23 miliar dari sebelumnya yang sebesar US$15,32 miliar.
Sementara, ekuitas tercatat sebesar US$14,88 miliar. Alhasil total aset hingga September 2025 tercatat sebesar US$32,12 miliar, tumbuh dari sebelumnya yang masih US$30,43 miliar.
(azr/wdh)































