Trump mengerahkan lebih dari 2.000 anggota Garda Nasional ke jalanan Washington pada Agustus, dengan alasan mereka dibutuhkan untuk mendukung penegak hukum federal dan Distrik Columbia.
Namun, langkah tersebut terbukti tidak disukai kalangan penduduk kota. Hakim federal baru-baru ini memutuskan pengerahan tersebut mungkin ilegal—meski begitu, anggota Garda Nasional tidak diharuskan segera meninggalkan Distrik. Mereka diberi waktu untuk banding.
Penembakan terjadi sekitar pukul 14.15 waktu setempat, dekat pintu masuk stasiun Metro Farragut West. Tidak ada indikasi awal bahwa pelaku sedang menaiki Metro, yang masih beroperasi.
Usai penembakan, anggota Garda Nasional lain di area tersebut dan aparat penegak hukum "dapat membantu dan menahan orang tersebut," kata Wakil Kepala Departemen Kepolisian Metropolitan Jeffery Carroll. Tersangka juga ditembak, dan saat ini tidak ada tersangka lain.
"Mereka benar-benar berhasil mengintervensi dan menahan tersangka setelah dia ditembak [jatuh] ke tanah hingga penegak hukum tiba," imbuh Carroll.
Jalan-jalan di sekitar lokasi segera ditutup dengan pita kuning karena kantor-kantor kosong menjelang libur Thanksgiving.
Carroll mengatakan bahwa Kepolisian DC dan penegak hukum federal akan bekerja sama untuk menyelidiki penembakan tersebut dan motifnya. Saat ini tidak ada indikasi adanya tersangka lain.
Polisi tidak mengungkap identitas anggota Garda Nasional maupun tersangka. Sebelumnya, Gubernur Virginia Barat Patrick Morrisey menyebut para korban berasal dari negara bagiannya dan telah meninggal dunia. Namun kemudian, dia menarik kembali pernyataan tersebut dengan alasan "laporan saling bertentangan."
Kepala Pentagon Pete Hegseth menggambarkan serangan tersebut sebagai "tindakan pengecut dan keji" yang menargetkan anggota Garda Nasional. Dia mengatakan Trump telah memerintahkannya untuk mengerahkan pasukan tambahan ke DC dan dia akan segera melaksanakannya.
"Kami tidak akan pernah mundur," tegas Hegseth. "Kami akan mengamankan ibu kota kami."
Kendaraan darurat memadati jalan-jalan di sekitar lokasi penembakan. Gedung-gedung pemerintah di dekat lokasi, termasuk Gedung Putih dan Departemen Keuangan awalnya ditutup.
Berbicara dari acara di Kentucky, Wakil Presiden JD Vance berkata, "kami masih belum tahu motifnya. Masih ada banyak hal yang belum kami pahami."
(bbn)





























