William memaparkan bahwa tingginya nilai klaim konstruksi dipicu oleh sejumlah faktor teknis yang muncul selama pengerjaan proyek, mulai dari perubahan desain hingga pembebasan lahan yang berlarut.
Pertama, terjadi perubahan desain (design variation) pada beberapa titik proyek. Salah satunya di Stasiun Halim, di mana desain awal tidak memperhitungkan persinggungan antara jalur kereta cepat dan jalur LRT.
“Itu mestinya tergambar sejak awal, tapi karena berubah, akhirnya muncul pekerjaan baru,” ujarnya.
Kedua, beberapa titik termasuk tiang struktur di Stasiun Halim harus dipindahkan karena beririsan dengan struktur bangunan eksisting. Perubahan ini menambah volume pekerjaan dan biaya.
Ketiga, jalur kereta cepat melintasi sejumlah fasilitas umum yang harus dipindahkan dan direlokasi, termasuk utilitas vital, sehingga menimbulkan biaya tambahan.
Keempat, terjadi lonjakan harga material yang signifikan. Groundbreaking proyek dilakukan pada 2016, sementara konstruksi baru berjalan masif pada 2018 hingga rampung 2023.
“Harga material, terutama baja, naik drastis dibanding kontrak awal,” kata William.
Terakhir, proses pembebasan lahan sepanjang jalur 142 km juga tidak berjalan mulus. Dengan lebar jalur sekitar 5 meter di kanan-kiri, banyak penyesuaian yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang proyek.
“Banyak sekali faktor yang akhirnya membuat cost overrun akhirnya dispute,” tegas William.
(dhf)





























