Logo Bloomberg Technoz

Kementerian Luar Negeri China menyatakan Xi memberi tahu Trump bahwa kembalinya Taiwan ke China merupakan bagian penting dari tatanan internasional pasca-Perang Dunia II.

Pemimpin China itu juga menekankan agar kedua negara mempertahankan momentum positif yang dihasilkan dari pertemuan mereka bulan lalu di Korea Selatan dan memperluas kerja sama.

Kedua pemimpin juga membahas invasi Rusia ke Ukraina. Xi mengutakan harapan agar kedua belah pihak mencapai kesepakatan damai yang mengikat.

Perselisihan yang sedang berlangsung antara Jepang dan China mengenai Taiwan mengancam akan menyulut ketegangan baru dalam hubungan Trump-Xi dan memperumit hubungan, setelah dua ekonomi terbesar dunia tersebut mencapai gencatan dagang pada Oktober. Jepang merupakan sekutu utama AS di Asia.

Donald Trump dan Sanae Takaichi di Istana Akasaka di Tokyo, Jepang, 28 Oktober 2025. (Andrew Harnik/Getty Images via Bloomberg)

Kesepakatan tersebut membuat Washington menurunkan tarif terkait fentanil atas barang-barang China, dan Beijing setuju untuk menghapus beberapa pembatasan ekspor logam tanah jarang. Setiap eskalasi antara AS dan China bisa menyebabkan ketidakpastian lebih lanjut bagi pasar dan pelaku bisnis.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa serangan hipotetis China terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo. Beijing menganggap pulau tersebut sebagai wilayahnya dan mengecam pernyataan Takaichi, menuntutnya menarik ucapannya.

Sejak saat itu, China mengeluarkan peringatan larangan perjalanan ke Jepang, menangguhkan penayangan beberapa film Jepang, dan melarang impor makanan laut Jepang. Kedua negara juga meningkatkan latihan militer. China mengumumkan patroli di Laut China Timur dan Jepang mengumumkan rencana akan mengerahkan rudal ke wilayah dekat Taiwan.

Dalam wawancara dengan CBS News' 60 Minutes pada 2 November, Trump mengatakan Xi "memahami jawabannya" ketika ditanya apakah pasukan AS akan membela Taiwan jika China menyerang. Pemimpin AS itu mengungkap topik tersebut tidak dibahas dalam pertemuan mereka bulan lalu.

Syarat Dagang

Menurut sumber Bloomberg, AS dan China masih merundingkan detail penting tentang bagaimana Beijing akan melonggarkan penjualan logam tanah jarang. Kedua negara ingin menyepakati persyaratan "lisensi umum" yang dijanjikan China untuk ekspor logam tanah jarang dan mineral kritis ke AS akhir bulan ini.

Meski pembicaraan mengenai material-material penting untuk produksi elektronik canggih masih belum jelas, AS telah mencabut tarif dan mengambil langkah-langkah keamanan nasional. Kekurangan pasokan logam tanah jarang membuat industri global, termasuk otomotif, barang konsumsi, dan robotika, berisiko mengalami gangguan.

Diskusi ini juga muncul saat pemerintahan Trump kembali mempertimbangkan apakah akan mengizinkan penjualan cip kecerdasan buatan (AI) yang lebih canggih ke Beijing. Trump pernah melontarkan peluang tersebut sebelum bertemu Xi pada Oktober, tetapi pada akhirnya kedua pemimpin itu tidak membahas isu tersebut.

Beberapa penasihat Trump telah memperingatkan bahwa potensi penjualan tersebut berisiko mengurangi keunggulan AS dalam teknologi yang sedang berkembang.

Howard Lutnick. (Al Drago/Bloomberg)

Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengungkap bahwa Trump sedang mendengarkan masukan dari "banyak penasihat yang berbeda" untuk memutuskan apakah akan menyetujui ekspor tersebut di masa depan.

"Keputusan semacam itu ada di tangan Donald Trump," tegas Lutnick dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada Senin. "Dia akan memutuskan apakah kita akan melanjutkannya atau tidak."

Pada 14 November, Trump juga menyatakan AS sedang berdiskusi dengan pemerintah China mengenai peningkatan pembelian kedelai Amerika—salah satu ketentuan dalam perjanjian dagang keduanya. 

"Mereka sedang dalam proses melakukannya," tutur Trump. "Kami berbicara dengan mereka hari ini. Mereka sedang dalam proses. Kami tidak hanya melakukan sedikit, tetapi mereka akan membeli kedelai dalam jumlah banyak."

(bbn)

No more pages