Amran menegaskan model pembiayaan tersebut dirancang agar justru menopang peternak kecil melalui suplai pakan, obat hewan, dan DOC dengan harga yang dikendalikan pemerintah.
“Rp20 triliun ini, rencana kami, modelnya pembibitan pakan. Ini adalah negara. Kemudian nantinya peternak operasi menyuplai peternak ini pakan, obat-obatan dengan harga pemerintah. Jadi ini menopang saudara-saudara kita peternak daripada berteriak tiap tahun,” ujar Amran dalam rapat
Dia menjelaskan BUMN pangan tidak akan masuk ke budidaya, melainkan hanya pada pembibitan, pakan, obat hewan, pengolahan hasil, serta logistik. Budidaya tetap dilakukan oleh peternak, koperasi, dan UMKM melalui pembiayaan bank, termasuk KUR bunga 3%.
Konsep tersebut disiapkan untuk memastikan stabilitas harga sekaligus menjaga ruang usaha peternak yang sudah ada tetap berjalan.
Amran menyebut model ini lahir karena adanya kondisi yang merugikan peternak kecil, seperti kenaikan harga bibit ayam atau day old chick (DOC) hingga 30% saat permintaan sedang tinggi. Kondisi itu membuat pemerintah memanggil perusahaan besar untuk menghentikan kenaikan harga.
Penempatan fasilitas pakan dan gudang terutama di Pulau Jawa juga ditujukan agar pemerintah dapat menyerap produksi lebih besar dan menjaga harga tetap stabil di lapangan.
“Kita terbatas di sini, intinya jangan kita ganggu pengusaha yang sudah tumbuh. Tetapi jangan semena-mena. Jadi kami pasang di sampingnya untuk menstabilkan harga di tempat itu,” kata Amran.
Dia menegaskan tujuan pemerintah untuk memastikan peternak kecil mudah mendapatkan DOC dan pakan dengan harga yang terjangkau. Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik pakan dan fasilitas DOC mulai berjalan tahun depan.
Dalam paparan Kementan, Danantara akan membiayai BUMN pangan untuk pembibitan, pakan, obat hewan, pengolahan produk, dan logistik pemasaran. Bank penyalur KUR menyiapkan kredit hingga Rp50 triliun untuk koperasi, UMKM, dan peternak sebagai pelaku budidaya.
Model ini ditopang oleh regulasi, pengembangan SDM, infrastruktur, serta riset dan inovasi dari Kementan melalui APBN. Program tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 1 juta ton telur dan 1,5 juta ton daging ayam per tahun serta menciptakan lebih dari 1,46 juta lapangan kerja.
Diketahui, program MBG sendiri menjangkau 82,9 juta orang penerima. Dalam mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut, pemerintah telah meningkatkan produksi telur sebanyak 700 ribu ton dan daging ayam 1,1 juta ton.
Mayoritas Luar Pulau Jawa
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menuturkan pabrik peternakan rakyat nantinya akan banyak dibangun di luar Pulau Jawa khususnya sentra produksi jagung.
“Karena memang 60%-70% itu sebenarnya jagung. Sisanya kan tinggal tambahin vitamin dan lain-lain,” tuturnya.
Di sisi lain, dia juga meyakini peternak rakyat nantinya mampu memproduksi pakan ternak, pembibitan, hingga obat hewan. Sudaryono membantah perusahaan swasta nantinya akan menguasai rantai pasok, mulai dari pakan hingga obat-obatan, sehingga mereka menjadi penentu harga.
“Jadi no worry kalau dari sisi urusan bisa dan tidak bisa. Ini bisa. Tapi kan masalahnya bukan hanya bisa bikin atau tidak bisa bikin. Tapi kan bagaimana bisa bikin dan konsep bisnisnya jalan gitu lho. Karena kan ini dua hal yang berbeda. Satu urusan teknis, sains, yang kedua ini bisnisnya [harus] jalan,” jelas dia.
(ell)





























