Obligasi Berkelanjutan Jadi Topik di Orange Forum 2025
Redaksi
19 November 2025 19:51

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelaku industri pembiayaan infrastruktur menilai peluang pembangunan berkelanjutan bisa dioptimalkan dengan sejumlah cara, salah satunya melalui penerbitan obligasi berkelanjutan.
Kendati demikian, diakui saat ini masih banyak tantangan dalam mendorong pertumbuhan pasar pembiayaan berkelanjutan di Indonesia. Di antaranya proyek infrastruktur hijau yang masih terbatas, hingga belum adanya insentif khusus penerbit obligasi tematik di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Chief Financial Officer Indonesia Infrastructure Finance (IIF), Eri Wibowo dalam Orange Forum 2025 yang diselenggarakan oleh Impact Investment Exchange bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (IDX), Senin (17/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, IIF mendorong pembangunan infrastruktur melalui penerbitan obligasi berkelanjutan. Selain sebagai diversifikasi sumber pendanaan dan meningkatkan daya saing, obligasi berkelanjutan juga membuka keran partisipasi investor pasar modal dalam pembiayaan proyek infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
"Yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Eri dalam keterangan tertulis, Rabu (19/11/2025).
Seperti diketahui, pada November ini IIF merampungkan program Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) tahun 2023 dengan penerbitan obligasi senilai Rp1,5 triliun. Penerbitan ini diklaim mendapatkan respons positif, tecermin dari tingkat oversubscription lebih dari 6 kali.
"Instrumen ini merupakan bagian dari strategi IIF untuk memperkuat struktur modal sambil tetap menyalurkan dana ke proyek ramah lingkungan," tegas dia.
Orange Forum
Seperti diketahui, Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Orange Forum 2025, sebuah platform internasional yang mempertemukan lebih dari 300 investor institusional, pembuat kebijakan, dan pemimpin masyarakat sipil.
Forum digelar untuk membahas pendanaan berkelanjutan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan.
Forum yang diinisiasi Impact Investment Exchange (IIX) bersama BEI, Bappenas, dan DFAT tersebut menekankan pergeseran dari pendekatan pembangunan berbasis hibah menuju mekanisme pasar yang dapat menggerakkan modal swasta dalam skala besar.
Diskusi mencakup kerangka kebijakan, instrumen inovatif, serta pengukuran dampak berbasis data untuk mendukung misi Orange Movement, yaitu memobilisasi US$10 miliar dan memberdayakan 100 juta perempuan dan kelompok rentan pada 2030.
































